Pantau Flash
New York Mulai Larang Penjualan Rokok Elektrik Bercita Rasa
UU Pemasyarakatan Beres, Napi Koruptor Bisa Mudah Bebas Bersyarat
Pesawat Twin Otter Hilang Kontak dalam Penerbangan dari Timika ke Ilaga
Hafiz/Gloria Terhenti di Babak Pertama China Open 2019
KTM: Posisi Johann Zarco Digantikan Mika Kallio hingga Akhir Musim

Benarkah Koalisi Arab Saudi Ingin Merdekakan Yaman?

Benarkah Koalisi Arab Saudi Ingin Merdekakan Yaman? Koalisi pimpinan Arab Saudi siap mengerahkan pasukan dengan kekuatan terukur ke Yaman (Foto: Reuters)

Pantau.com - Koalisi pimpinan Arab Saudi --yang memerangi gerilyawan Al-Houthi di Yaman-- mengatakan satu komite gabungan dibentuk oleh Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UAE) untuk menstabilkan gencatan senjata di Yaman.

Gencatan senjata dicapai untuk Provinsi Shabwah dan Abyan di Yaman, kata stasiun televisi dan kantor berita resmi Yaman pada Senin (26/8/2019). Mereka mengutip juru bicara koalisi Turki Al-Maliki --yang mengatakan komite itu akan mulai bekerja secepatnya dimulai hari ini.

Di dalam satu pernyataan bersama pada Senin pagi, pemerintah Arab Saudi dan UAE mendesak semua pihak agar bekerja sama dengan komite gabungan itu guna mewujudkan penarikan pasukan serta penempatan kembali prajurit sebagai bagian dari upaya militer koalisi.

Baca juga: 5 Skandal Keluarga Kerajaan Arab Saudi, Kematian Khashoggi Paling Gempar

Pernyataan tersebut, yang dikeluarkan oleh kementerian luar negeri kedua negara, menyerukan pihak-pihak terkait untuk segera berdialog. Arab Saudi mengatakan dialog itu ditujukan untuk menangani penyebab dan kemunculan kembali peristiwa di sebagian provinsi Yaman Selatan.

Pernyataan tersebut juga menekankan bahwa kedua negara akan melanjutkan kegiatan politik, militer, kemanusiaan dan pembangunan sebagai bagian dari upaya koalisi memelihara kepentingan rakyat Yaman serta menghentikan pergerakan  milisi Al-Houthi --yang bersekutu dengan Iran.

"Kedua negara kembali menegaskan keinginan mereka untuk memelihara negara Yaman dan kepentingan, keamanan, kestabilan, kemerdekaan dan keutuhan wilayah rakyat Yaman di bawah kepemimpinan presiden Yaman, dan menghadapi kudeta oleh milisi Al-Houthi, yang didukung Iran dan organisasi teror lain," kata pernyataan itu.

Pada awal Agustus, kaum separatis dukungan UAE mengambil alih kota pelabuhan Aden di Yaman Selatan, yang dijadikan pusat pemerintahan sementara Yaman --dukungan Arab Saudi.

​​​Kelompok separatis pekan lalu juga memperluas kekuasaan mereka ke Abyan, wilayah yang bertetangga dengan Aden. Kedua pihak adalah bagian dari koalisi pimpinan Arab Saudi yang ikut campur di Yaman pada 2015 melawan milisi Al-Houthi, yang mendepak pemerintah Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi dari kekuasaan di Ibu Kota Yaman, Sana'a, pada penghujung 2014.

Baca juga: Ini Deretan Negara Islam yang Menindas Negara Islam di Timur Tengah

Tapi Dewan Peralihan Selatan, yang berusaha menguasai bagian selatan negeri itu, berbalik melawan pemerintah setelah menuduh satu pihak yang bersekutu dengan Hadi terlibat dalam serangan Al-Houthi terhadap pasukan Selatan.

Arab Saudi telah menyerukan agar pertemuan puncak digelar guna mengakhiri pertikaian tersebut, yang telah membuat rumit upaya PBB dalam mengakhiri perang di Yaman. Tapi pemerintah Hadi menyatakan takkan ikut sampai kaum separatis melepaskan kekuasaan atas wilayah yang telah mereka rebut.

Pertikaian itu telah mengungkapkan perbedaan antara dua sekutu di kawasan, Arab Saudi dan UAE. ​​​​​UAE pada Juni mengurangi kehadiran di Yaman sementara tetap mendukung ribuan petempur separatis Yaman Selatan.

Share this Post:
Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta
Category
Internasional

Berita Terkait: