Pantau Flash
Seniman Djaduk Ferianto Meninggal Dunia
Boeing Klaim 737 MAX Kembali Layani Penerbangan Komersil Januari Mendatang
PAN: Kami Dukung Amandemen Terbatas UUD
Dovizioso Akui Berat Rebut Gelar Juara Tim MotoGP 2019
DPD RI Sebut Pilkada Bisa Kembali Dipilih oleh DPRD

Bukit Asam Hasilkan Laba di Atas Rp2 Triliun di Tengah Murahnya Batu Bara

Headline
Bukit Asam Hasilkan Laba di Atas Rp2 Triliun di Tengah Murahnya Batu Bara Gedung perkantoran PT Bukit Asam (Tbk) (Foto: Instagram/Bukit Asam)

Pantau.com - Badan Usaha Milik Negara yang bergerak disektor tambang batu bara, Bukit Asam masih mencetak laba di atas Rp2 triliun.

Dalam keterangan tertulisnya, laba tersebut terbilang baik ditengah harga batu bara yag masih lesu. PT Bukit Asam Tbk mencatatkan peningkatan kinerja operasional hingga paruh pertama tahun 2019. Tercatat kenaikan penjualan menjadi 13,40 juta ton atau naik 9,7 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. 

Kenaikan penjualan ini ditopang oleh kenaikan produksi batu bara Perseroan menjadi 12,8 juta ton atau mengalami kenaikan 14,1 persen dari semester I tahun 2018 dan kapasitas angkutan batu bara sebesar 11,7 juta ton atau mengalami kenaikan 5,5 persen dari kapasitas angkutan batu bara periode Januari hingga Juni 2018. 

Pencapaian kinerja operasi Perseroan ini tak lepas dari strategi manajemen dalam mengoptimalkan peluang pasar ekspor ke beberapa negara seperti India, Korea Selatan, Hong Kong, Filipina, Taiwan dan sejumlah negara Asia lainnya, ditengah penurunan harga batu bara acuan (HBA). Serta tentunya didukung oleh keberhasilan dari strategi optimasi penjualan ekspor batu bara medium to high calorie ke premium market.

Baca juga: Sri Mulyani Akui Akses Teknologi Digital di Luar Jakarta Masih Rendah

Sepanjang semester I tahun 2019, Perseroan mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp10,6 Triliun, yang terdiri dari pendapatan penjualan batu bara domestik sebesar 53 persen, penjualan batu bara ekspor sebesar 45 persen dan aktivitas lainnya sebesar 2 persen yang terdiri dari penjualan listrik, briket, minyak sawit mentah, jasa kesehatan rumah sakit dan jasa sewa.

Pendapatan usaha ini dipengaruhi oleh harga jual rata-rata batu bara yang turun sebesar 6,8 persen menjadi Rp778.821/ton dari Rp835.965/ton di semester I 2018. Penurunan tersebut disebabkan oleh pelemahan harga batu bara Newcastle sebesar 38 persen maupun harga batu bara thermal Indonesia (Indonesian Coal Index/ICI) GAR 5000 sebesar 26 persen dibandingkan harga rata-rata Semester I 2019.

Beban pokok penjualan hingga paruh 2019 ini tercatat sebesar Rp6,96 triliun atau mengalami kenaikan sebesar 13 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp6,14 triliun.

Dengan komposisi dan kenaikan terbesar terjadi pada biaya angkutan kereta api seiring dengan peningkatan volume angkutan batu bara dan kenaikan biaya jasa penambangan seiring dengan peningkatan produksi dan peningkatan stripping rasio pada semester pertama 2019 sebesar 4.6 dari 4.3 pada Semester 1 2018.

Baca juga: Atur Regulasi, OJK Usulkan UU Fintech Acuan untuk Penegakan Hukum

Dengan pendapatan dan peningkatan biaya tersebut, membuat pencapaian laba bersih Perseroan menjadi sebesar Rp2,01 triliun dengan EBITDA tercapai sebesar Rp3,19 triliun.

Aset Perseroan per 30 Juni 2019 mencapai Rp23,41 triliun dengan komposisi terbesar pada aset tetap sebesar 29 persen dan kas setara kas sebesar 23 persen. Kas dan setara kas (di luar deposito dengan jangka waktu lebih dari enam bulan) yang dimiliki Perseroan saat ini sebesar Rp5,29 Triliun, turun 16 persen per 31 Desember 2018 sebesar Rp6,30 triliun.

Total liabilitas perseroan per sebesar Rp7,16 triliun yang 60 persen diantaranya merupakan liabilitas jangka pendek. Total liabilitas tersebut turun dibandingkan liabilitas per 31 Desember 2018.

Kondisi ini menyebabkan cash ratio atau cash and equivalent terhadap liabilitas jangka pendek Perseroan menjadi 122 persen, yang berarti Perseroan memiliki likuiditas kuat atau sangat mampu memenuhi liabilitas jangka pendek tepat waktu.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni
Category
Ekonomi

Berita Terkait: