Pantau Flash
Korsel Kucurkan USD74 Juta Garap Sistem Antidrone Antisipasi Ulah Korut
Menteri Energi Arab Saudi Targetkan Produksi Minyak Pulih Akhir September
Hindari Asap Karhutla, Satwa Liar Banyak Masuk ke Permukiman Warga
Karhutla di Indonesia Diprediksi hingga Akhir September
Data: Tren Penggunaan Robot pada Industri Indonesia Naik

Cerita Naufal Pasien Obesitas yang Sanggup Makan 1/4 Kambing Sendiri

Cerita Naufal Pasien Obesitas yang Sanggup Makan 1/4 Kambing Sendiri Naufal pasien obesitas dengan bobot 202 kilogram. (Foto: Pantau.com/Dini Afrianti Efendi)

Pantau.com - Masih ingat dengan Arya Permana? seorang bocah SD yang viral karena beratnya mencapai 192 kilogram. Ternyata Arya bukan satu-satunya orang di Indonesia yang memiliki masalah obesitas. Naufal Abdilah contohnya, pria berumur 23 tahun ini memiliki bobot mencapai 202 kilogram ini akhirnya memilih bedah Bariatrik seperti Arya.

Baca juga: Mengenal Metode Bedah Bariatrik, Cara Efektif Atasi Obesitas

Kepada Pantau.com Naufal bercerita pada awalnya ia tidak yakin bisa untuk menurunkan berat badannya. Namun salah seorang dosennya yang juga seorang dokter menyarankan dan merekomendasikan untuk menjalani bedah bariatrik karena khawatir melihat kondisinya.

Beruntung, saat itu Naufal masih dapat berjalan meskipun cukup berat rasanya, tapi tentu saja kondisinya itu menghambat aktivitas sehari-harinya sebagai mahasiswa.

"Saya juga pingin normal beraktivitas, saya pingin juga seperti jurnalis ke sana kemari, tapi kan enggak bisa," ungkapnya dalam penyuluhan Bedah Bariatrik RS  Pondok Indah Group di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta Selatan, Kamis, (14/3/2019).

Hingga akhirnya pada November 2018 Naufal mutuskan berkonsultasi dengan Dr. David Fadjar Putra, S.S,Sp.GK, Dokter Spesialis Gizi Klinik RS Pondok Indah. Naufal disarankan untuk berkonsultasi dengan Dr.dr. Peter Ian Limas, Sp.B-KBD, Dokter Spesialis Bedah Konsultan Bedah Digestif RS Pondok Indah, dan akhirnya memutuskan menjalani tindakan bariatrik demi mengatasi masalah oebsitas yang telah dialaminya sejak remaja.

Setelah dilakukan penindakkan Naufal secara terus menerus melakukan konsultasi dengan dokter spesialis gizi klinik, tujuannya menjaga asupan makan agar lambungnya tidak kembali membesar dan hasilnya lebih optimal.

Beruntung, hingga Maret 2019 bobotnya telah berkurang hingga 36 kilogram dengan penurunan Indeks Massa Tubuh (IMT) menjadi 80,9 dari yang sebelumnya berada diangka 95,3, yang artinya IMT Naufal masih berada dalam kategori obesitas tertinggi yakni obesitas morbid.

Naufal bercerita, jika ia membandel tidak menuruti aturan makan yang ditetapkan, maka secara otomatis perutnya akan menolak dan memuntahkan makanan, karena dilakukannya pemotongan lambung. Saat ini ia hanya memakan buah, telur, ikan, dan air. Ayam, yang jadi makanan farvorit sebelumnya, kini tidak bisa lagi ia nikmati karena akan menimbulkan rasa nyeri.

"Kalau pagi biasa telur rebus, kalau siang baru ikan, malem itu buah itupun melon satu potong (seiris). Stok kalori aku juga dibatasi 1000 kalori, yang penting dilihat kalorinya sih. Kalau air putih bisa lebih dari lima liter (yang bikin efek kenyang)," ungkapnya.

Hal lain yang harus ia lakukan yaitu berolahraga, Naufal berenang sebanyak tiga kali seminggu, bergerak biasa sambil berjalan selama 30 menit lamanya. 

"Kita diterapin olaharaganya bertahap, sekarang diterapin apa," jelasnya.

Naufal merasa beruntung dan ia akan terus bertekad mempertahankan pola hidupnya dengan olahraga dan makan seimbang agar dapat kembali ke berat badan normal. Ia juga berjanji akan membuang kebiasaan lamanya yang buruk, khususnya dalam hal makan.

"Ya, makannya saya sampai bisa makan kambing seperempat sendiri, kalau makan kambing kan biasanya ada nasi Arabnya (Kebuli) di nampan gitu, nah senampan itu, itu yang paling parah istilahnya. Sekarang udah enggak kuat, ayam aja satu potong di bagi dua," ungkapnya.

Baca juga: Heboh Wanita Obesitas di Kalimantan, Pakar Beberkan Penyebab Secara Medis

Banyak harapan Naufal sematkan dalam usahanya ini, salah satunya dalam beraktivitas dan mengejar cita-cita. Ia mengatakan, jika nanti berat badannya kembali normal ia ingin meneruskan cita-citanya jadi seorang pebisnis, bahkan ia berniat pergi melakukan ibadah umroh.

"Planningnya kan bisnisman, kalau udah selesai ini bisa (gerak) ini bisa pergi umroh, itu kan perlu badan ideal, haji, yang penting bisa naik gunung, hal-hal yang udah dicapai kalau badan udah itu (normal)," ceritanya.

Sementara itu Dr,David memprediksi, Naufal akan kembali ke tubuh idealnya memang memerlukan waktu lama, jika ia mampu konsisten dengan pola hidup dan makannya, perkiraan membutuhkan waktu satu tahun lamanya.

Share this Post:
Tim Pantau
Editor
Gilang K. Candra Respaty
Penulis
Gilang K. Candra Respaty
Reporter
Dini Afrianti Efendi
Category
Ragam

Berita Terkait: