Forgot Password Register

Headlines

Deretan Faktor 'X' yang Buat Elektabilitas Jokowi Tetap Unggul dari Prabowo

Ilustrasi Jokowi-Ma'ruf Amin. (Pantau.com/Fery Heryadi) Ilustrasi Jokowi-Ma'ruf Amin. (Pantau.com/Fery Heryadi)

Pantau.com - Direktur eksekutif SMRC Djayadi Hanan mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan elektabilitas capres petahana Joko Widodo masih unggul dari lawannya Prabowo Subianto, jelang enam bulan menuju Pilpres 2019. 

Berdasarkan survei yang dilakukan SMRC disebutkan bahwa elektabilitas Jokowi saat ini sebesar 60,2 persen, Prabowo 28,7 persen, sementara yang belum menentukan pilihan sekitar 11,1 persen. 

" Faktor-faktor yang dapat mengubah tren elektabilitas calon presiden terutama adalah penilaian pemilih atas kondisi ekonomi, politik, penegakan hukum, dan keadilan keamanan," kata Djayadi dalam rilis survei nasional di kantor SMRC, jalan Pramuka, Jakarta Timur, Minggu (7/10/2018). 

Baca juga: Politisi NasDem Beberkan Pentingnya Etika Politik Tangkal Isu Hoax Jelang Pemilu

Djayadi memaparkan, hampir disetiap sektor tingkat kepuasan juga keyakinan masyarakat terhadap kinerja Jokowi sebagai presiden masih cukup tinggi. Seperti evaluasi kinerja Jokowi sebagai presiden, SMRC mencatat 73 persen masyarakat puas dengan hasil kerja pemerintah. Angka itu disebut lebih unggul dari mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat menjadi capres petahana dalam Pilpres 2009.

"Kepuasaan atas kinerja SBY pada September 2008 sebesar 58 persen" ucapnya. 

Kemudian tingkat keyakinan masyarakat terhadap kemampuan memimpin Jokowi juga dinilai cukup tinggi pada angka 71 persen. Djayadi mengatakan sejak Maret 2017 angka itu cenderung stabil. Sementara 23 persen di antaranya dikatakan tidak yakin dengan kemampuan Jokowi memimpin. Menurut Djayadi, 23 persen itu yang kemungkinan besar tidak akan milih Jokowi.

Baca juga: Survei SMRC: Elektabilitas Jokowi Kian Naik, Prabowo Turun

Terakhir faktor ekonomi. Menurut Djayali, persoalan nilai tukar rupiah melemah tidak langsung membuat elektabilitas Jokowi turun. Hal itu karena tidak membuat barang-barang kebutuhan pokok menjadi naik. 

"Dolar yang terus naik belum pengaruhi langsung pada harga barang. Kalau dolar memengaruhi harga barang akan pengaruhi pada persepsi ekonomi," ucapnya. 

Menurut Djayali sebanyak 29,3 persen masyarakat merasa ekonomi nasional tidak ada perubahan dibandingkan tahun lalu. Namun 21 persen menyatakan ekonomi nasional lebih buruk dan 39 persen merasa lebih baik. 

Share :
Komentar :

Terkait

Read More