Forgot Password Register

Gelaran IMF-WB di Bali Diharapkan (Bisa) Tekan Ketimpangan Ekonomi

Managing Director Dana Moneter Internasional (IMF), Christine Lagarde saat di Jakarta. (Foto: Pantau.com/Ratih Prastika) Managing Director Dana Moneter Internasional (IMF), Christine Lagarde saat di Jakarta. (Foto: Pantau.com/Ratih Prastika)

Pantau.com Indonesia dipandang perlu mendorong negara-negara maju dan berkembang dalam Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional-Bank Dunia (Annual Meeting IMF-WB) 2018, untuk membuat komunike atau pemberitahuan resmi bersama, dalam menurunkan ketimpangan ekonomi global.

"Ukuran kesuksesan Indonesia bukan hanya soal mampu atau tidak menjadi tuan rumah penyelenggara, namun bisa tidak Indonesia membawa agenda-agenda yang lebih strategis?," kata Rektor Universitas Paramadina Firmanzah dalam Diskusi Kelompok Terfokus, Senin (12/3/2018).

Indonesia atau lebih tepatnya Provinsi Bali, akan menjadi tuan rumah sidang tahunan IMF-WB dengan tiga agenda utama pada 12-14 Oktober 2018.

Baca juga: Wow! BI Taksir Indonesia Kantongi Keuntungan Rp5,7 Triliun dari Gelaran IMF-WB di Bali

Firmanzah mengatakan Indonesia jangan hanya menjadi tuan rumah yang gagal memanfaatkan peluang diplomasi ekonomi. Sebagai salah satu negara dengan ekonomi yang tumbuh (emerging countries) dan negara berkembang (developing countries), Indonesia harus bisa mewakili kepentingan negara sesama (emerging countries dan developing countries), untuk mengedepankan perekonomian global yang lebih merata dan berkeadilan.

Ia mengatakan selama ini struktur pasar finansial global gagal memberikan solusi untuk menurunkan tingkat kesenjangan ekonomi.

Baca juga : Hore! Pemerintah Bakal Tambah Penerbangan ke Bali Jelang Gelaran IMF-WB

"Sistem finansial global kerap jauh dari masalah ketimpangan. Kita bisa perjuangkan untuk masuk agenda untuk membuat komunike. Namun jika sudah masuk dan dibahas di panelis saja itu juga sudah baik," ujarnya.

Menurutnya, masalah ketimpangan ekonomi perlu diperjuangkan Indonesia karena Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang masih terkendala dengan ketidakadilan manfaat ekonomi.

Baca juga: Wow! Amerika Tasbihkan Diri sebagai Eksportir Senjata Terbesar Dunia

Saat ini, indikator ketimpangan yakni koefisien gini Indonesia berada di 0,393. Padahal, pertumbuhan ekonomi Indonesia baru di kisaran lima persen, yakni 5,07 persen (yoy) pada 2017.


Angka koefisien gini tersebut, relatif cukup tinggi bagi Indonesia dan masih jauh dari target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) sebesar 0,36 pada 2019.

Firmanzah menuturkan, selain ketimpangan ekonomi global, agenda lain yang dapat diperjuangkan Indonesia sebagai negara berkembang adalah komitmen kerja sama infrastruktur dan pengembangan pariwisata.

"Kita perlu berkaca pada Peru, Singapura, dan Turki sebelumnya sebagai penyelenggara. Mereka menikmati banyak manfaat dari pertemuan ini, bukan hanya sebagai tuan rumah," ujar Firmanzah yang merupakan Mantan Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. 

Baca juga: Perhatian.. Ganjil Genap Tol Bisa Diterapkan di Tol Depok, Bogor, dan Tangerang

Tiga tahun yang lalu atau 2015, pertemuan tahunan IMF-WB diselanggarakan di Peru. Dengan pertemuan tahunan tersebut, Peru sukses menggenjot pertumbuhan sektor pariwisata sebesar 16 persen pada 2015.

Pertemuan tahunan IMF-WB tahun ini, akan terdapat 189 Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral dari seluruh dunia yang datang ke Bali pada 12-14 Oktober 2018. Secara keseluruhan terdapat 15 ribu delegasi untuk rangkaian acara yang dimulai sejak 8 Oktober dengan acara puncak di 12-14 Oktober 2018.


Share :
Komentar :

Terkait

Read More