Pantau Flash
Nadiem Kembalikan USBN pada Esensi Sistem Pendidikan Nasional
Tim Panahan Fokus Olimpiade 2020 Tokyo Seusai SEA Games 2019
Kemendikbud Sebut UN Akan Diganti Sistem Penalaran
88 Proyek Strategis Nasional Bernilai Rp421,1 Triliun Selesai Akhir 2019
Herry IP: Wahyu/Ade Tidak Jauh Berbeda dengan Marcus/Kevin dan Ahsan/Hendra

Menguak Tabir Perlakuan Terhadap Jenazah di Australia

Menguak Tabir Perlakuan Terhadap Jenazah di Australia Sebelum dikubur atau dikremasi di Australia, mayat seseorang harus diidentifikasi oleh dokter, yang bisa dilakukan dimana saja, termasuk di parkiran dekat tempat sampah. (Foto: ABC News/Four Corners)

Pantau.com - Sebuah mobil van berhenti di tempat loading salah satu pusat perbelanjaan di New South Wales, Australia. Mobil ini datang ke sana agar mayat di dalamnya bisa diidentifikasi oleh dokter yang berpraktek tak jauh dari situ.

Tak lama kemudian, dokter tersebut tampak berjalan ke bagian belakang van yang pintunya sudah terbuka. Supir van membuka kantong mayat, dan dokter itu pun melongok ke dalam.

"Ya, benar itu Bill," kata si dokter yang tak disebutkan namanya, dikutip dari ABC News, Selasa (24/9/2019).

Dia lalu kembali ke tempat prakteknya yang berada di pusat perbelanjaan tersebut. Investigasi program Four Corners ABC menemukan, identifikasi mayat di tempat umum seperti itu, hanyalah salah satu praktek tak bermartabat yang terjadi dalam industri pemakaman di Australia.

Kalangan industri ini menyebut masyarakat akan "ngeri" apabila mereka mengetahui beberapa detail yang terjadi di lapangan.


Seorang dokter di pedalaman New South Wales tampak melongok ke kantong mayat di dalam mobil jenazah untuk mengidentifikasinya. (Foto: ABC News/Four Corners)

Ketua Asosiasi Pengurus Rumah Duka di New South Wales, Michael Mackay, menyebut proses mengidentifikasi mayat di tempat parkir sebagai praktik yang memalukan.

"Konyol, penuh penghinaan dan memalukan," tegasnya.

Di NSW, sebelum dikremasi, mayat harus diperiksa oleh dokter yang dapat memverifikasi identitas mereka. "Hal ini menimbulkan masalah di saat kami harus memindahkan mayat tersebut ke tempat praktek dokter agar diidentifikasi," katanya.

"Ada dokter kami yang tempat prakteknya persis di sebelah toko makanan," ujar Mackay.

"Pegawai kami selalu ngeri setiap kali mereka harus membawa mayat ke sana. Ini salah secara moral dan seharusnya tak boleh terjadi."

Mackay tidak menyalahkan para dokter yang terlibat. "Saya malah merasa kasihan kepada para dokter itu. Mereka melakukannya karena tuntutan hukum," katanya.

Proses identifikasi mayat bisa berlangsung hanya beberapa menit tapi dikenakan biaya ratusan dolar, yang akan dibebankan ke pihak keluarga.

Departemen Kesehatan NSW yang dihubungi menyatakan pihaknya sedang meninjau persyaratan identifikasi tersebut. Peti mati diisi sampah, mayat ditumpuk-tumpuk

Salah satu pemilik rumah duka Michael Cox yang ditemui ABC mengaku tahu adanya peti mati berisi mayat yang dicampur dengan sampah-sampah medis.

Selain itu, dia juga mengaku tahu adanya mayat yang ditumpuk-tumpuk dalam tempat pendinginan, serta keinginan keluarga mayat yang tidak dijalankan oleh rumah pemakaman. "Mereka tak punya tempat sampah medis, atau murni karena memang ingin membuang sampah, sehingga dibuang ke dalam peti mati bersama jenazah," kata Cox.


Seorang pengurus jenazah berpengalaman sedang mempersiapkan mayat sebelum dikubur atau dikremasi. (Foto: ABC News/Four Corners)

"Bila tempat mayatnya penuh di kamar pendingin, mereka akan menumpuk mayat-mayat di tempat yang sama - toh mayat-mayat itu tak akan menolak," katanya.

Cox mengaku ada pekerja krematorium di Melbourne mengeluarkan kawat gantungan baju dari ruang kremasi. "Jelas pihak keluarga menyediakan pakaian bagi jenazah keluarganya, tapi pakaian itu dilempar begitu saja bersama peti mati ke ruang kremasi. Dilempar bersama gantungan bajunya," jelasnya.

Di negara bagian Victoria, krematorium hanya boleh dioperasikan oleh pemerintah setempat, sehingga pihak swasta harus membawa mayat-mayat yang diurusnya ke negara bagian lain untuk dikremasi demi menghemat biaya.

Salah satu rumah duka terbesar di Australia, Tobin Brothers, diketahui membawa mayat-mayat dari Victoria ke NSW sejauh 200 kilometer untuk dikremasi di krematorium milik mereka.


Sebuah mobil jenazah yang diisi lima mayat dibawa ratusan kilometer untuk dikremasi di negara bagian lain. (Foto: ABC News/Four Corners)

Perusahaan itu mengatakan sebagian besar mobil jenazah mengangkut lima mayat sekali jalan dan satu van bisa mengangkut delapan mayat. CEO Tobin Brothers James Macleod mengatakan krematorium mereka di NSW jadi sumber pemasukan perusahaannya.

Dia berdalih keputusan membawa mayat ke NSW dilakukan karena stafnya tidak puas dengan layanan di krematorium yang dikelola pemerintah di Victoria.

Menurut Christian Maxwell, CEO sebuah perusahaan rumah duka Zaly, mengaku tidak mengkhawatir layanan krematorium pemerintah di Victoria.

"Saya rasa upaya perusahaan tertentu mengambil keuntungan dengan membawa mayat ke luar Victoria untuk kremasi itu konyol," ujar Maxwell.


Mayat-mayat yang disimpan di ruang pendingin. (Foto: ABC News/Four Corners)

Dia menyebut tindakan rumah duka membawa jenazah ratusan kilometer itu sebagai tindakan ilegal. Namun menurut Macleod, pengangkutan jenazah antarnegara bagian sudah disebutkan dalam dokumen yang ditandatangani pihak keluarga. Di mata Maxwell, tindakan itu tetap saja tidak etis.

"Mayat-mayat itu bukan daging. Mereka tidak bisa dikirim begitu saja hanya karena dipandang aman-aman saja," katanya.

Kamar mayat yang sama, harga berbeda


Semakin banyak orang Australia memilih dikremasi daripada dikuburkan. (Foto: ABC News/Four Corners)

Operator pemakaman terbesar di Australia, Invocare, adalah perusahaan yang terdaftar di bursa saham ASX. Perusahaan ini mengoperasikan hampir 300 rumah duka, termasuk yang terkenal seperti Simplicity, White Lady, Le Pine, Guardian Funerals, dan Value Cremations.

Menurut Carly Dalton yang pernah bekerja di Simplicity, rumah duka seharusnya tidak boleh diperdagangkan sahamnya di lantai bursa.

Dalton sekarang mengoperasikan rumah duka miliknya sendiri dan menjabat sebagai ketua Asosiasi Profesional Rumah Duka Independen. "Bisnis ini bukan sesuatu di mana Anda harus mengoptimalkan keuntungan setiap dolar dari pihak keluarga," katanya.

Dia menyebut operasional rumah-rumah duka Invocare berjalan tanpa sentuhan personal. "Biasanya ada tiga atau empat meja pembalseman, dengan tiga atau empat orang bekerja bersama-sama," katanya.


Sejumlah oknum pengurus jenazah memperlakukan mayat orang Australia tanpa penghormatan sama sekali, termasuk membawanya ke parkiran pusat belanja agar bisa diidentifikasi oleh dokter yang tempat prakteknya di sekitar situ. (Foto: ABC News/Four Corners)

Pengurusan jenazah melalui rumah duka Value Cremations misalnya, menelan biaya hanya $ 1.250 (sekitar Rp 12 juta), sedangkan di rumah duka White Lady dikenakan sekitar $ 7.000 (sekitar Rp 70 juta), tidak termasuk biaya kremasi atau penguburan.

Meski di lapangan, mayat-mayat dari setiap rumah duka tersebut seringkali dipersiapkan di kamar mayat yang sama dan ditangani oleh staf yang sama.

Seorang mantan pekerja pembalsem di Invocare, Terry Clifton, meninggalkan perusahaan pada tahun 2012 karena kecewa melihat operasional dan taktik penjualan yang diterapkan.

"Tidak masalah merek mana yang Anda gunakan, fasilitas tempat persiapan mayatnya semua berasal dari tempat yang sama," katanya.

CEO Invocare, Martin Earp, yang dihubungi menyatakan praktek ini memang benar terjadi. "Itu mungkin terjadi di kamar mayat yang sama. Sama saja kalau ke restoran, Anda mungkin pesan makanan yang berbeda, hidangan utama Anda lebih banyak dari yang lain. Tapi itu semua dikerjakan di dapur yang sama," jelasnya.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta
Category
Internasional

Berita Terkait: