Pantau Flash
Penyitaan Narkoba Terbesar di Malaysia: 3,7 Ton Senilai USD161 Juta
Sebelum Ada BBM 1 Harga, Premium di Nusa Ceningan Bali Rp10.000 per Liter
Dirut BPJS Kesehatan Bicara Soal Iuran: Kita Menyesuaikan dengan Hitungan
Jembatan George Washington Ditutup Setelah Ada Ancaman Bom
BMKG Sebut Ada 151 Titik Panas Karhutla di Kalimantan Barat

Pengamat: Masyarakat Telah Terbiasa dengan Politik Uang di Pemilu

Pengamat: Masyarakat Telah Terbiasa dengan Politik Uang di Pemilu Ilustrasi pemilu (Foto: Pantau.com/Fery Heryadi)

Pantau.com - Direktur Riset Charta Politika Muslimin menyebut praktik money politic atau politik uang lumrah terjadi setiap pelaksanaan pemilu. Muslimin bahkan menyebut saat pileg 2014, mayoritas caleg mulai dari DPR RI, DPRD tingkat 1 hingga DPRD tingkat 2 kerap memberikan uang atau pun sembako kepada masyarakat. 

"Itu sebabnya kemudian masyarakat, begitu kita tanya, sangat tinggi memaklumi (politik uang). Karena mereka sudah biasa menerima. Dari pileg ke pileg bahkan pilkada ke pilkada," kata Muslimin, di kawasan Kebayoran, Jakarta Selatan, Senin (11/2/2019).

Baca juga: PDIP dan Gerindra Kuasai DKI di Pileg 2019, Menurut Hasil Survei Charta Politika

Padahal menurut Muslimin, ada potensi masyarakat selalu menerima pemberian apa pun dari caleg mana pun. Namun hal itu belum tentu memengaruhi sikap politik masyarakat untuk memilih caleg yang telah memberinya sesuatu. 

"Jadi catatan juga bagi caleg dan parpol bahwa uang belum tentu kemudian masyarakat akan memilih caleg yang memberikan uang," ucapnya.

Baca juga: Survei Charta Politika: Pakai Nama Asli di Pileg, Hanya 20 Persen yang Kenal Eko Patrio

Maraknya politik uang setiap pemilu, menurut Muslimin, menjadi cermin bahwa pendidikan politik kepada publik belum maksimal. Ia mengatakan seharusnya baik partai politik juga caleg yang diusungnya harus sama-sama berkomitmen untuk tidak melakukan politik uang.

"Tentu masyarakat jika diberikan akan menerima. Beberapa temuan kita bahwa masyarakat menerima uang, bahkan menerima dari semua caleg yang memberikan, tapi belum tentu menentukan siapa caleg yang dia pilih. Apalagi kalau misalnya masyarakat tidak menerimanya dari satu caleg. Pendidikan politik kepada publik masih sangat rendah," pungkasnya.

Share this Post:
Tim Pantau
Editor
Adryan Novandia
Penulis
Adryan Novandia
Reporter
Lilis Varwati
Category
Nasional

Berita Terkait: