Forgot Password Register

Headlines

Rupiah Tertekan, RI Bisa Ambil Peluang Gunakan Mata Uang Alternatif?

Mata uang Rupiah dan Yuan Hongkong (Foto: Instagram) Mata uang Rupiah dan Yuan Hongkong (Foto: Instagram)

Pantau.com - Pelemahan nilai tukar Rupiah secara terus menerus hingga menembus angka Rp15.000 per 1 dolar AS tidak dapat dipungkiri dinilai sudah menekan perekonomian Indonesia. Salah satu dampaknya, adalah memperberat transaksi perdagangan yang menggunakan mata uang dolar AS.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai melemahnya nilai tukar Rupiah harus ditahan dengan berbagai upaya. Salah satunya adalah perlunya pemerintah mendorong transaksi perdagangan internasional dengan menggunakan mata uang alternatif. Hal ini diperlukan untuk mengurangi beban perekonomian nasional. 

Assyifa Szami Ilman mengatakan dengan semakin parahnya depresiasi nilai Rupiah ini, pemerintah sebaiknya mempertimbangkan penggunaan mata uang alternatif pengganti Dollar AS untuk transaksi perdagangan internasional.

"Mata uang Yuan Renmimbi Tiongkok dapat menjadi alternatif. Hal ini mempertimbangkan beberapa hal. Pertama, Tiongkok merupakan mitra dagang terbesar Indonesia," ujar Ilman melalui keterangan tertulis yang diterima Pantau.com, Kamis, (11/10/2018).

Baca juga: BI Tak Pungkiri Pelemahan Rupiah Sulit Dibendung

Menurutnya, Pemerintah perlu mendorong perusahaan importir yang melakukan perdagangan dari Tiongkok untuk melakukan pembayaran dalam Yuan Renminbi. Berdasarkan data Statistik Kementerian Perdagangan, nilai impor nonmigas dari Tiongkok merupakan 27,4 persen dari total perdagangan selama Semester I 2018. 

Depresiasi nilai rupiah terhadap Yuan Renminbi dinilai lebih rendah apabila dibandingkan dengan Dollar AS. Sejak 1 Januari 2018, nilai Rupiah terdepresiasi terhadap Yuan Renminbi (CHY) sebesar -5,47 persen. Jumlah ini lebih kecil dibandingkan nilai depresiasi Rupiah terhadap Dollar AS sebesar -12,14 persen.

"Mitra dagang utama Indonesia lainnya, seperti Jepang, Thailand dan Singapura, memiliki porsi perdagangan yang cukup signifikan pula dengan Tiongkok. Sehingga tidak menutup kemungkinan negara-negara tersebut juga terbuka untuk mempertimbangkan transaksi menggunakan mata uang Yuan Renminbi Tiongkok," katanya.

Bank Indonesia juga dapat terus mendorong kebijakan yang sudah bergulir sebelumnya, yaitu mendorong transaksi bilateral dengan Thailand dan Malaysia untuk menggunakan mata uang lokal, yaitu Ringgit Malaysia dan Baht Thailand.

"Dengan mengintensifkan transaksi dengan mata uang tersebut, cadangan devisa tidak akan mengalami pergerusan sebesar transaksi perdagangan internasional dengan menggunakan Dollar AS," pungkasnya.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More