Forgot Password Register

Headlines

Sandiaga Uno Sampaikan 4 Catatan Indikasi Kecurangan Pemilu 2019

Sandiaga Uno Sampaikan 4 Catatan Indikasi Kecurangan Pemilu 2019 Konferensi pers BPN Prabowo-Sandi soal kecurangan pemilu (Foto: Pantau.com/Bagaskara Isdiansyah)

Pantau.com - Pasangan capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga menggelar konferensi pers ungkap sejumlah indikasi kecurangan di Pilpres 2019. Dalam kesempatan ini Sandiaga Uno ungkap sejumlah catatan yang menurutnya sangat memprihatinkan dalam Pilpres 2019.

Catatan yang pertama Sandiaga menyoroti kasus banyaknya petugas pelaksana pemilu 2019 yang meninggal dunia saat menjalankan tugas. Menurutnya, 600 lebih korban yang sudah meninggal saat ini mencoreng demokrasi Indonesia.

"Dengan pahit kita juga katakan yang paling banyak memakan korban, pemilu yang paling banyak sepanjang sejarah Indonesia. Sebuah pelajaran yang amat mahal yang harus dijadikan bekal bagi perbaikan penyelenggaran pemilu di waktu yang akan datang," ujar Sandi di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Selasa (14/5/2019).

Baca juga: Beberkan Kecurangan Pemilu, BPN Akan Undang Berbagai Pakar Hingga TKN

Kemudian catatan kedua, Sandi menyoroti adanya indikasi politik uang dalam Pemilu 2019. Hal itu terlihat dari tertangkapnya oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yakni Bowo Sidik yang menyiapkan ratusan amplop berisi uang untuk serangan fajar.

"Dari berbagai penjuru tanah air terutama di jateng dan jatim masyarakat disuguhi banyak cerita, bagaimana gelombang tsunami amplop politik uang. yang dikawal oleh aparat pemerintah bahkan aparat keamanan. telah menghancurkan sendi sendi demokrasi kita. Rakyat sebagai pemilik kedaulatan dibuat terlena. Bukannya memilih sesuai hati nurani tetapi dipaksa atau setengah dipaksa memilih yang memberikan iming iming uang," kata Sandi.

Catatan yang ketiga yakni Sandi dan pihaknya menyoroti kejanggalan yang terjadi menjelang pemungutan suara. Kejanggalan tersebut kata Sandi seperti permasalahan DPT, kotak suara kardus, permasalahan logistik pemilu hingga dipersulit mendapatkan tempat untuk mejalani kampanye terbuka di sejumlah daerah.

"Kekurangan logistik hingga pengusiran dan intimidasi saksi saksi dari pasangan 02 di daerah tersebut. ini semua menyebabkan perolehan suara kami di daerah tertentu itu 0 (nol). Semasa kampanye betapa sering kami mengalami sendiri, memperoleh perlakuan yg tidak adil sulitnya perizinan, tempat yang pindah pindah," tuturnya.

Baca juga: BPN Paparkan Temuan Kecurangan Pemilu, Bamsoet: Terlalu Prematur 

Lebih lanjut catatan yang terakhir yang keempat, Sandi menyoroti sejumlah tokoh mulai dari ulama hingga para aktivis dikriminalisasi. Kemudian ia juga menyoroti tim asistensi hukum yang dibuat oleh Menkopolhukam Wiranto baru-baru ini.

"Ironis seruan seruan protes damai yang dilakukan atau audit atau koreksi. Ironis lagi sistem yang terbukti menampilkan puluhan ribu kekeliruan yang cenderung menyesatkan itu tetap dipergunakan dan dengan alasan ini bukan sistem yang akan digunakan untuk menentukan hasil akhir," tandasnya.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More