Forgot Password Register

Headlines

Selandia Baru Larang Senjata Api Semi-Otomatis Usai Teror Christchurch

Selandia Baru Larang Senjata Api Semi-Otomatis Usai Teror Christchurch Senjata api AR-15 dalam perpustakaan senjata di West Virginia, Amerika Serikat. (Foto: Reuters/Jonathan Ernst)

Pantau.com - Selandia Baru memperkenalkan larangan senjata api semi-otomatis gaya militer dan senapan serbu usai serangan mematikan di dua masjid di Kota Christchurch, kata Perdana Menteri Jacinda Ardern pada Kamis (21 Maret 2019).

"Kabinet telah setuju untuk merombak hukum pada pertemuan di hari Senin, 72 jam setelah serangan terorisme di Christchurch. Saat ini, enam hari usai serangan tersebut, kami mengumumkan larangan semua gaya senjata api semi-otomatis (MSSA) dan serangan senapan di Selandia Baru," kata Jacinda Ardern.

Ia juga menambahkan, selain senjata api, suku cadang yang digunakan untuk mengubah senjata api menjadi MSSA juga telah dilarang, bersama dengan semua amunisi kapasitas tinggi.

"Semua senjata semi-otomatis yang digunakan selama serangan pada pekan lalu akan dilarang," tambah Ardern, seperti dikutip Sputnik, Jumat (22/3/2019).

Baca juga: Penyintas Penembakan Selandia Baru: Saya Luput dari 2 Peluru Tarrant

RUU larangan itu akan diperkenalkan di parlemen pada awal April. Pemerintah berharap langkah itu bisa disahkan oleh badan legislatif dalam tahap berikutnya.

Ardern menjelaskan, undang-undang termasuk pengecualian untuk pengguna bisnis yang sah, perburuan, dan aparat kepolisian serta badan pertahanan. Akses penggunaan senjata kepada mereka yang terlibat dalam kompetisi olahraga internasional juga harus dipertimbangkan oleh otoritas.

"Sementara undang-undang sedang disusun, saya mengumumkan pemerintah akan segera mengambil tindakan untuk membatasi potensi produksi senjata itu dan mendorong masyarakat untuk terus menyerahkan senjata mereka," kata Ardern.

"Kami akan memperkenalkan langkah-langkah yang tidak permanen untuk pemilik senjata sampai rincian pembelian senjata itu diumumkan," tambahnya.

Baca juga: Selandia Baru Buru Tersangka Lain dalam Penembakan di Christchurch

Di sisi lain, Komisaris Polisi Selandia Baru Mike Bush mengatakan, semua korban serangan di Christchurch telah diidentifikasi dan memperingatkan masyarakat setelah periode amnesti selama tiga minggu, kepemilikan senapan MSSA dalam semua kemungkinan akan dituntut.

Pekan lalu, 15 Maret 2019, seorang pria bersenjata menewaskan 50 orang setelah melakukan penembakan secara membabi-buta di dua masjid di Kota Christchruch, Selandia Baru. 

Perdana Menteri Selandia Baru menyebut aksi penembakan itu merupakan aksi terorisme dan pelaku yang bernama Brenton Tarrant berusia 28 tahun merupakan warga negara Australia. Tarrant akan ditahan hingga 5 April mendatang.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More