Pantau Flash
Catat! Ini Janji Menko Luhut Soal Solusi Masalah Sawit Indonesia
Menlu Iran: AS Tak Bisa Bikin Teluk Persia Kacau
Dari 20 Nama 4 Anggota Polri Lolos Profile Assessment Jadi Capim KPK
Dirut Jasa Marga Dukung Pemindahan Ibu Kota: Tol di Kalimantan Sudah Ada
Kapolsek Sukajadi Diperiksa karena Diduga Kirim Miras ke Mahasiswa Papua

Siapa Bilang Impor Terus? RI Ekspor 3 Komoditas Unggulan ke China Nih

Siapa Bilang Impor Terus? RI Ekspor 3 Komoditas Unggulan ke China Nih Ilustrasi (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Pengamat ekonom Universitas Sam Ratulangi Agus Tony Poputra menilai langkah pemerintah untuk mendorong ekspor tiga komoditas unggulan, yaitu buah-buahan, CPO dan sarang burung walet, ke China merupakan langkah yang tepat.

"Buah-buahan tropikal itu dibutuhkan di sana karena tidak ada buah-buahan tropikal semisal pisang, nanas, dan sebagainya. Itu cocok kita masuk ke China," kata Agus dalam pernyataan di Jakarta, Kamis (18/7/2019).

Agus mengatakan peningkatan ekspor buah-buahan ke China bisa dilakukan dengan mulai mendorong produksi, yang disertai langkah menjaga kebutuhan dalam negeri dan menjamin kestabilan harga komoditas ini.

Baca juga: Naik Parah Hingga Rp8.000, Emas Dipatok Rp705.000 per Gram

Untuk produk CPO, Agus menyetujui peningkatan ekspor komoditas ini karena produk sawit olahan tersebut sedang membutuhkan pasar luar negeri yang besar untuk menyerap tingginya produksi dalam negeri.

"Sedangkan sarang burung walet biasa dikonsumsi masyarakat menengah atas, tidak banyak pengaruh ke masyarakat luas, jadi bagus diekspor," tambah Agus.

Dalam kesempatan terpisah, Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Ahmad Erani Yustika mengatakan Presiden Jokowi dalam arahannya selalu menekankan agar kinerja ekspor nasional terus ditingkatkan meski saat ini kondisi global terdampak tingginya tensi perang dagang.

"Presiden ingin kinerja perdagangan diperbaiki, baik dengan jalan meningkatkan ekspor ke negara tradisional maupun nontradisional dan mengendalikan impor, salah satunya dengan cara menginisiasi industri substitusi impor," ujarnya.

Ia menambahkan langkah pemerintah melalui Kementerian Perdagangan untuk memacu ekspor dengan memperluas pasar sudah terlihat dan telah memberikan sumbangan terhadap peningkatan nilai perdagangan.

Baca juga: Pertanyaan Netizen di Akun Twitter Garuda Ini Buat Pembaca Ngakak

Berdasarkan catatan, ekspor Indonesia pada 2018 naik ke negara-negara tujuan nontradisional, seperti Bangladesh sebesar 15,9 persen, Turki 10,4 persen, Myanmar 17,3 persen, Kanada 9,0 persen, dan Selandia Baru 16,8 persen.

"Tahun ini, pemerintah fokus ke pasar Afrika, dengan menandatangani 12 perjanjian. Tiga di antaranya merupakan target pasar baru sejak 2018, yakni Mozambik, Tunisia, dan Maroko," kata Erani.

Selain dengan beberapa negara di Afrika, menurut dia, pemerintah juga sedang memacu nilai perdagangan dengan Iran dan Turki.

Selain itu, tambah dia, upaya meningkatkan peran sektor industri terhadap nilai ekspor juga terus meningkat dan realisasinya mencapai 70 persen pada 2018.


Share this Post:
Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni
Category
Ekonomi

Berita Terkait: