Pantau Flash
Voli Pantai Indonesia Melaju ke Semifinal Turnamen World Beach Games
KPK OTT Bupati Indramayu
PDIP Pasrahkan Kabinet ke Jokowi
AICHR Desak Diterapkannya Perjanjian ASEAN Soal Kabut Asap Lintas Batas
Tol Langit Diprediksi Tingkatkan Ekonomi Digital Indonesia Timur

Tanggapi Kecaman Turki, China Rilis Video Seniman Uighur yang Diklaim Tewas

Tanggapi Kecaman Turki, China Rilis Video Seniman Uighur yang Diklaim Tewas Pria Uyghur melihat sebuah truk yang membawa polisi paramiliter yang bertugas di jalanan selama aksi anti-terorisme di China. (Foto: Reuters)

Pantau.com - Media milik Pemerintah China telah merilis sebuah video yang menunjukkan penyair Uighur, Abdurehim Heyit, dalam keadaan hidup dan bersikeras bahwa ia dalam keadaan sehat, menyusul klaim bahwa Heyit telah meninggal di penjara.

Video itu dirilis setelah adanya kecaman dari Turki, yang menggambarkan kamp-kamp tahanan China sebagai kamp konsentrasi dan menyebut kamp itu merupakan pelecehan terhadap kemanusiaan. Sekitar satu juta Muslim Uyghur diyakini ditahan di kamp-kamp di provinsi Xinjiang ini.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Turki, Hami Aksoy, memecah sikap diam Turki atas perlakuan terhadap minoritas Muslim, menyebut bahwa negara itu mengetahui kematian Heyit di penjara, tetapi laporan kematiannya tidak bisa diverifikasi secara independen.

Namun, dalam sebuah video yang dirilis pada Senin (11 Februari 2019), seorang pria yang mengaku sebagai Heyit, terlihat bergoyang, mengenakan sweter putih dan hitam serta memberikan pernyataan singkat dengan latar belakang abu-abu yang suram.

Baca juga: Soal Penahanan Massal Uighur, Turki: China Lakukan Tindakan Memalukan Bagi Kemanusiaan

"Hari ini 10 Februari 2019, saya sedang dalam proses penyelidikan karena diduga melanggar hukum nasional. Saya sekarang dalam kondisi yang baik dan tidak dianiaya," tulis teks terjemahan berbahasa Inggris dan Turki dalam video itu, seperti dilansir ABC News, Selasa (12/2/2019).

Seorang juru bicara dari kedutaan besar China di Turki mengatakan tuduhan China melanggar hak asasi manusia sama sekali tidak konsisten dengan fakta dan sama sekali tidak dapat diterima oleh China.

Ia mengatakan pusat-pusat pelatihan dirancang untuk mengajarkan bahasa Uighur dan keterampilan profesional untuk memerangi kemiskinan dan tempat berkembang biak bagi ide-ide ekstrimis.

"Mereka yang menuduh Pemerintah China berusaha menghapus identitas etnis, agama, dan budaya Uighur dan kelompok Muslim lainnya sama sekali tidak dapat dibenarkan," katanya.

Baca juga: Kesaksian Perempuan Uighur Usai Bebas dari Kamp Pelatihan Paksa di Xianjiang

Patrick Poon, seorang peneliti China di Amnesty International, mengatakan kepada ABC, sungguh aneh melihat video Abdurehim Heyit setelah mendengar berbagai sumber tentang kematiannya. Menurutnya, satu-satunya cara Otoritas China membuktikan keselamatannya adalah membiarkannya berbicara dengan teman-teman, keluarga, dan jurnalisnya tanpa ada gangguan,

"Cara video itu disajikan mirip dengan kasus lain dari rekaman video yang direkam, seperti kasus Peter Dahlin dan Gui Minhai," ucapnya.

Penyair dan musisi terkenal Uighur itu adalah master dutar, instrumen dua senar dari Iran dan Asia Tengah, dan dilaporkan dihukum delapan tahun penjara karena salah satu lagunya.

Menurut Magnus Fiskesjo, profesor antropologi di Cornell University, video itu bukan jaminan Heyit benar-benar hidup, dengan nada, suasana, lokasi yang dirahasiakan dan dinding kedap suara merupakan ciri-ciri pengakuan yang dipaksakan dan pengakuan tertulis yang dibaca subyek berarti ia diperlakukan dengan ancaman dan bahkan penyiksaan.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Noor Pratiwi
Category
Internasional

Berita Terkait: