Pantau Flash
Rupiah Menguat 20 Poin, Kini di Angka Rp14.058-14.120
Demi Layani Masyarakat Lebih Maksimal, Jasa Raharja Perkuat Aplikasi JRku
KPK Panggil Sekjen DPR RI Jadi Saksi Kasus Impor Bawang Putih
LAPAN Bangun Bandar Antariksa di Biak Tahun 2020 Mendatang
25 Kelurahan di DKI Jakarta Masuk Kategori Rawan Banjir

Tekanan Darah Tinggi di Pagi Hari? Awas Bahaya Serangan Fajar!

Tekanan Darah Tinggi di Pagi Hari? Awas Bahaya Serangan Fajar! Ilustrasi (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Seringkali seseorang mendapati tekanan darah yang cenderung tinggi saat bangun pagi misalnya 130/80 mmHg, padahal tidak mengidap hipertensi (140-159/90-99 mmHg). Apakah ini normal?

"Selama jantung sehat, enggak ada kelainan jantung, ada variasi tekanan darah. Pagi atau siang, selama variasi itu tidak lebih dari 140 mmHg," ujar Anggota Dewan InaSH dr Yuda Turana, SpS(K) dalam seminar media di Jakarta, Kamis (19/9/2019).

Baca juga: Jaga Kesehatan, Hipertensi dan Diabetes Bisa Sebabkan Gangguan Otak

Menurut dokter yang juga mengajar di FKIK UNIKA Atma Jaya, Jakarta itu saat malam seringkali tekanan darah berada pada angka 120/70 mmHg atau sistolik 110 mmHg karena kondisi tubuh yang rileks. Lalu pada pagi hari tiba-tiba tekanan darah naik ke angka 135/85 mmHg.

"Tetapi kalau saat tidur rileks, besok pagi tekanan darah jadi 160 mmHg ini harus hati-hati. Tetapi kalau tadinya 110 mmHg, 130 atau 135 mmHg variasinya itu bagian dari variasi yang kita sebut normal," kata dia.

Serangan fajar atau morning surge terjadi saat tekanan darah sistolik lebih dari seharusnya yakni, 135 mmHg atau 140 mmHg. Kondisi ini bisa berakibat buruk pada organ tubuh yang memiliki pembuluh darah, termasuk ginjal.

Agar hal ini tak terjadi, Yuda menyarankan terutama para penderita hipertensi memeriksakan tekanan darahnya rutin pada pagi dan malam hari di rumah selain juga di klinik. Pemeriksaan di rumah bisa membantu mendeteksi hipertensi terselubung dan hipertensi jas putih.

Baca juga: Sering Pipis Tengah Malam Bisa Jadi Gejala Hipertensi

Di Indonesia, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada 2018 menunjukkan prevalensi hipertensi sebesar 34,1 persen dari populasi orang dewasa dan menjadi penyebab utama gagal ginjal yang harus menjalani cuci darah.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Gilang K. Candra Respaty
Penulis
Gilang K. Candra Respaty
Category
Ragam

Berita Terkait: