Pantau Flash
Resmi! Timnas U-16 Indonesia Jadi Wakil Tunggal di Piala Asia U-16 2020
Total Sudah 9 Terduga Teroris Cilincing dan Tambun Diringkus Polisi
Rommy Bantah Bisa Intervensi Menteri Lukman Angkat Pejabat Kemenag
Malindo Air: Kebocoran Data Disebabkan Mantan Staf Perusahaan Kontraktor
Pimpinan DPR Temui Presiden Jokowi di Istana Bahas RKUHP

Terungkap! Pilot AS Minta Boeing 737 Dikandangkan Pasca Tragedi Lion

Headline
Terungkap! Pilot AS Minta Boeing 737 Dikandangkan Pasca Tragedi Lion Boeing 737 MAX. (Foto: Reuters/Pascal Rossignol)

Pantau.com - Otoritas Administrasi Penerbangan Federal (FAA) Amerika Serikat membela sertifikasi keselamatan yang diterbitkan oleh lembaganya mengenai pesawat jet Boeing 737 MAX.

Pembelaan ini menanggapi beredarnya rekaman suara yang mengungkapkan sejumlah pilot mempertanyakan pejabat Boeing soal sistem kontrol penerbangan otomatis di pesawat Boeing 737 MAX beberapa bulan sebelum terjadi kecelakaan pesawat kedua yang dialami Ethiopian Airlines.

Pertemuan antara pilot maskapai American Airlines dengan pihak Boeing itu berlangsung pada November 2018, hanya beberapa minggu setelah pesawat Lion Air jatuh di perairan Indonesia, dan empat bulan sebelum pesawat milik Ethiopian Airlines jatuh setelah tinggal landas dan menewaskan sedikitnya 157 penumpang, seperti dilansir ABC News, Jumat (17/5/2019).

Penyelidikan atas kedua kecelakaan tersebut telah difokuskan pada sistem kontrol penerbangan otomatis, MCAS (Maneuvering Characteristics Augmentation System), yang mulai dioperasikan dua tahun lalu pada pesawat Boeing seri 737 MAX.

Sistem ini akan mendorong pesawat ke bawah jika mendeteksi pendakian vertikal yang tajam yang bisa berisiko membuat pesawat kehilangan daya angkat di udara (stalling).

Baca juga: Detik-detik Pesawat Boeing Kembali Nyaris Jadi Barang Rongsok

Dalam sebuah rekaman suara yang diperoleh CNN, para pilot terdengar menanyai seorang pejabat Boeing yang tidak dikenal tentang perubahan pada sistem perangkat lunak itu.

"Kami benar-benar layak mengetahui apa yang ada di pesawat kami," kata seorang pilot, yang dijawab oleh pejabat itu, "Saya tidak setuju".

"Orang-orang ini bahkan tidak tahu sistem MCAS itu dioperasikan di dalam pesawat," kata pilot itu melanjutkan pembicaraannya, dengan merujuk pada kecelakaan yang terjadi pada maskapai Lion Air: "orang lain juga tidak mengetahui soal sistem ini ".

Pejabat Boeing itu kemudian memberi tahu para pilot bahwa ia tidak yakin dengan memahami sistem ini dapat mengubah situasi dari peristiwa kecelakaan tersebut.

"Dalam sejuta mil Anda mungkin akan menerbangkan pesawat ini, dan mungkin ada kalanya satu kali anda akan melihat kejadian seperti ini untuk selamanya," katanya.

Pilot American Airlines itu sebelumnya mengecam Boeing karena tidak memberi tahu mereka tentang dimasukkannya sistem MCAS itu dalam model pesawat Boeing yang lebih baru setelah 737 MAX diperkenalkan.

Kredibilitas FAA dipertanyakan

Dalam dengar pendapat di kongres pada hari Rabu, 15 Mei 2019, Kepala penjabat Administrasi Penerbangan Federal (FAA) Amerika Serikat Daniel Elwell membela keputusan agensinya untuk tidak melarang terbang pesawat Boeing 737 MAX sampai regulator lain di seluruh dunia kemudian memberlakukan kebijakan yang sama.

Namun, ia mengakui para pilot itu seharusnya disediakan informasi yang lebih baik tentang fitur sistem kontrol penerbangan otomatis yang terlibat dalam kedua kecelakaan.

"Saya berpikir bahwa MCAS seharusnya lebih memadai dijelaskan dalam manual ops dan manual penerbangan," kata Daniel Elwell.

Selama dua jam interogasi oleh subkomite penerbangan di kongres, para politisi telah mendesak Elwell atas ketergantungan FAA pada karyawan Boeing yang ditunjuk selama proses sertifikasi pesawat.

Baca juga: 2 Kali Kecelakaan Pesawat, Boeing Diminta Trump Ganti Nama

"FAA memiliki masalah soal kredibilitas," kata ketua subkomite, Rick Larsen.

Boeing saat ini sedang memperbarui sistem kontrol penerbangan otomatis (MCAS) tersebut, dan Daniel Elwell mengatakan dia memperkirakan Boeing akan merampungkan pekerjaannya sekitar minggu depan, setelah itu FAA akan menganalisis perubahan pada perangkat lunak tersebut dan melakukan uji penerbangan.

"Di AS, seri 737 MAX akan kembali dioperasikan hanya ketika analisis FAA atas fakta dan data teknis menunjukkan bahwa pengoperasian kembali pesawat itu aman untuk dilakukan," katanya.

Nadia Milleron, putrinya Samya Stumo yang berada di pesawat Ethiopian Airlines, hadir sebagai audiens pada persidangan. Dia mengatakan FAA tampaknya terlalu terburu-buru menyetujui perbaikan yang dilakukan Boeing pada pesawat 737 MAX bahkan sebelum investigasi kecelakaan selesai, sesuatu yang bisa memakan waktu berbulan-bulan.

"Sangat mungkin pesawat-pesawat ini seharusnya tidak boleh diterbangkan lagi," katanya.

Nadia Milleron (kanan), anak perempuannya tewas dalam kecelakaan jatuhnya pesawat Ethiopia Airlines crash, mendengarkan rapat dengar pendapat di kongres AS. (AP/Susan Walsh via ABC News)

Share this Post:
Tim Pantau
Editor
Nani Suherni
Penulis
Noor Pratiwi
Category
Internasional

Berita Terkait: