Pantau Flash
ASEAN School Games 2919 Resmi Dibuka, Menpora: Selamat Bertanding
Axl Roses Ditangkap karena Edarkan Ganja
Tak Puas dengan Sebelumnya, KPK Minta Presiden Bentuk TGPF Baru Kasus Novel
Pengacara Tomy Winata Serang Hakim di PN Jakpus, Jidat Dihantam Gesper
Rian Ernest Dipolisikan karena Sebut Politik Uang di Pemilihan Wagub DKI

Trump Tolak Laporan PBB Usut Pembunuhan Khashoggi oleh FBI

Headline
Trump Tolak Laporan PBB Usut Pembunuhan Khashoggi oleh FBI Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Foto: Reuters)

Pantau.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menolak permintaan PBB untuk FBI dalam menyelidiki pembunuhan wartawan Jamal Khashoggi, yang diperkirakan hal itu akan membahayakan penjualan senjata Amerika Serikat ke Arab Saudi.

Sebuah laporan tentang pembunuhan Khashoggi yang diterbitkan pekan lalu oleh Pelapor Khusus PBB soal pembunuhan di luar hukum menyatakan bahwa AS harus membuka penyelidikan FBI. "Saya pikir itu sudah banyak diselidiki," kata Trump, ketika disodorkan pertanyaan kelanjutan proses hukum pembunuhan Khashoggi disela-sela wawancaranya NBC, pada Minggu, 23 Juni.

Ketika ditanya siapa yang telah menyelidiki, ia menjawab oleh semua orang. Maksudku, saya telah melihat begitu banyak laporan yang berbeda," ujarnya seperti dilansir The Guardian, Senin (24/6/2019).

Trump mengatakan bahwa kasus pembunuhan Khashoggi tidak didiskusikan olehnya dan Pangeran Mahkota Saudi bin Salman (MbS) dalam dialog teleponnya pada pekan ini.

Presiden Amerika Serikat itu juga menyebutkan Arab Saudi tidak lebih buruk daripada negara lainnya di Timur Tengah, dengan mengatakan tempat kejam. 'Lihatlah Iran, lihat di negara lain, saya tidak menyebutkan nama."

Baca juga: Percakapan Terakhir Intelijen Saudi Sebelum Habisi Jamal Khashoggi

Saat ditanyakan apakah ia bersikap menutup mata soal pembunuhan Khashoggi karena Saudi setuju dengan kontrak USD14,5 miliar untuk pembelian senjata dari AS, Trump membela diri dengan menyebutkan bahwa Saudi salah satu sekutu setia AS.

"Saya hanya mengatakan mereka menghabiskan USD4 triliun, semua uang, pekerjaan, untuk memberi peralatan militer," kata Trump.

Sementara menyangkal bahwa ia mengatakan pembelian tersebut adalah 'harga untuk pembunuhan Khashoggi', Trump membela pertimbangannya atas penjualan senjata dalam menanggapi pembunuhan tersebut.

"Saya tidak seperti orang bodoh yang mengatakan, 'kami tidak mau berbisnis dengan mereka.' Lagipula jika mereka tidak berbisnis dengan kita, kamu tahu apa yang mereka lakukan? Mereka akan berbisnis dengan Rusia dan China," ujar Trump.

"Kami membuat peralatan terbaik di dunia, tetapi mereka akan membeli peralatan besar dari Rusia dan China," tambahnya.

Sebuah bukti baru dari sumber kredibel menunjukan bahwa Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman (MbS) bertanggung jawab atas pembunuhan wartawan Jamal Khashoggi, menurut ahli PBB.

Pelapor Khusus PBB untuk Eksekusi Ekstrayudisial, Ringkasan, dan Arbitrasi, Agnes Callamard, telah menyerukan penyelidikan internasional yang tidak memihak untuk menetapkan 'ambang tanggung jawab pidana telah terpenuhi.

Baca juga: PBB: Mohammed bin Salman Pelaku Pembunuhan Khashoggi

Callamard, dalam laporan independen pertamanya tentang pembunuhan Khashoggi mengatakan, pejabat tingkat tinggi Kerajaan Saudi juga harus diselidiki dalam mengungkap kasus tersebut.

Dalam sebuah laporan dengan 99 halaman tentang pembunuhan itu, Callamard mengatakan bahwa ia telah mempelajari rekaman di Konsulat Saudi di Istanbul saat hari di mana Khashoggi telah dibunuh pada 2 Oktober 2018. 

Laporannya menegaskan adanya rekaman audio, meskipun dia bilang tidak diizinkan untuk membuat salinan. Selain itu, dia hanya diberi akses selama 45 menit dari rekaman ketika intelijen Turki menunjukkan memiliki setidaknya durasi selama tujuh jam. 

Arab Saudi menolak laporan PBB yang menyatakan terdapat bukti kredibel Pangeran Mohammed bin Salman (MbS) dan pejabat kerajaan lainnya bertanggung jawab atas kematian wartawan Jamal Khashoggi.

"Tidak ada hal yang baru. Pelapor dalam Dewan Hak Asasi Manusia mengulangi laporan yang tidak mengikat apa yang telah diterbitkan dan diedarkan oleh media," kata Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir, Rabu, 19 Juni 2019.

Share this Post:
Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Noor Pratiwi
Category
Internasional

Berita Terkait: