Forgot Password Register

YLKI: Cukai Rokok Indonesia Jauh dari Standar Internasional

YLKI: Cukai Rokok Indonesia Jauh dari Standar Internasional Ilustrasi (Pixabay)

Pantau.com - Jika sebelumnya gelaran Asian Games 2018 banyak dielu-elukan banyak pihak dan bisa menjadi standar baru untuk gelaran selanjutannya di China.

Tapi seperti dengan kebijakan Pemeritah Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla tentang tidak ada kenaikan tarif cukai rokok di tahun 2019 ini. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengkritisi kebijakan pemerintah Jokowi-JK terkait rendahkan penerapan cukai rokok di Indonesia. 

Baca juga: 4 Negara Ini Tak Pungut Pajak, Rakyatnya Terkenal Paling Tajir di Dunia

Sobat Pantau, YLKI mencatat, kenaikan cukai tahun 2017 dinilai amat minim hanya 10,14 persen. Kenaikkan ini dinilai tak ada apa-apa karena masyarakat tetap bisa membeli rokok.

"Tragisnya dalam periode Jokowi kenaikkan cukai sangat rendah, 2016 kenaikan hanya 10,14 persen, ini tidak berarti apa-apa untuk pengendalian konsumsi rokok karena masyarakat tetap bisa membeli rokok," kata Ketua YLKI Tulus Abadi saat jumpa pers di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (11/1/2019).

Baca juga: Maju Mundur Penerapan Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok Tahun 2019

Padahal kata dia, mandat UU tentang Cukai, cukai rokok bisa dinaikkan hingga 57 persen. Sementara besaran cukai eksisting saat ini baru mencapai 38 persen-an. Bandingkan dengan rata-rata internasional (standar WHO), cukai rokok minimal sebesar 75 persen dari harga retail.

"Pemerintah baru menaikkan cukai eksisting 38-40 persen, masih luas ruangnya tapi tidak dinaikkan, Indonesia semakin ketinggalan dengan standar internasional karena standar internasional WHO dan FTCT Standar dunia cukai rokok 75 persen," ungkapnya.

Baca juga: Kebijakan Jokowi-JK Kena 'Sempot' Lembaga Konsumen

Rendahnya cukai ini kata dia, akan mengakibatkan harga rokok terasa murah dan akhirnya gampang diakses/dibeli, sekalipun oleh kelompok rentan, seperti anak-anak, remaja, dan kalangan rumah tangga miskin.

"Apalagi rokok bisa dijual secara ketengan. Menurut data BPS, Riskesdas dan Susenas; konsumsi rokok telah melanggengkan kemiskinan akut di rumah tangga miskin, baik rumah tangga miskin di urban area dan atau rural area," pungkasnya.


Share :
Komentar :

Terkait

Read More