
Pantau - Film “Monster Pabrik Rambut” ditayangkan perdana dalam ajang Berlinale Special Midnight di Festival Film Internasional Berlin 2026 yang berlangsung pada 12 hingga 22 Februari di Jerman.
Film produksi bersama Indonesia, Singapura, Jepang, Jerman, dan Prancis itu diharapkan menjadi opsi baru dalam genre horor bagi penonton film Indonesia.
Aktor Iqbaal Ramadhan menyampaikan, "Saya berharap mereka takut, saya harap mereka terhibur. Dan harapannya ini bisa menghadirkan opsi baru dalam genre horor, yang sangat besar di Indonesia,".
Dalam wawancara berbahasa Inggris, Iqbaal berharap film tersebut menjadi horor fantasi yang tetap dinikmati dan dibicarakan bahkan setelah film berakhir.
Film ini dibintangi Rachel Amanda, Lutesha, dan Iqbaal Ramadhan dengan skenario yang ditulis Edwin bersama Daishi Matsunaga dan novelis Eka Kurniawan.
Horor Komedi dengan Kritik Kapitalisme
Sutradara Edwin menyampaikan film tersebut mengingatkan manusia tentang singkatnya kehidupan.
"Kita hidup dalam kehidupan yang tidak terlalu panjang, jadi mari mengerjakan apa yang kita cintai dan masih menjadi manusia," ujar Edwin.
Media hiburan The Hollywood Reporter menilai Edwin memasukkan unsur komedi gelap dan kritik terhadap pemujaan kapitalisme dalam film tersebut.
"Saya belum pernah bekerja dengan genre ini sebelumnya," ungkap Edwin.
Ia mengaku terinspirasi oleh Jordan Peele dalam menyampaikan pesan kuat melalui film horor.
"Jadi kami berpikir, mari kita bersenang-senang dengannya — tetapi bukan dengan membuat film horor berdasarkan hantu seperti kebanyakan film horor Indonesia. Kami ingin menciptakan suasana horor, tetapi bukan dengan cara yang biasa," jelasnya.
Angkat Isu Eksploitasi Tenaga Kerja
Film ini menghadirkan kisah surealis komedi gelap berlatar pabrik wig bobrok dengan pengawas perempuan yang eksploitatif.
"Eksploitasi tenaga kerja dan kondisi kerja yang tidak manusiawi adalah kenyataan hidup di negara saya," kata Edwin.
"Keadaan ini tidak membaik. Ini menjadi hal yang dinormalisasi hingga mencapai tingkat yang sangat absurd dan mengerikan," tambahnya.
Dalam wawancara dengan Variety, Edwin menyampaikan bahwa realitas bisa digambarkan melalui berbagai genre sinema.
"Terlalu banyak hal gila di Indonesia dalam kehidupan sehari-hari kami yang sudah serius, jadi mungkin horor-komedi adalah genre yang sempurna untuk digunakan sebagai alat membahas masalah kehidupan sehari-hari kami," ujarnya.
Edwin mengaku melakukan riset mendalam mengenai kondisi pabrik untuk merancang ekosistem beracun dalam film tersebut.
"Saya sangat tertarik dengan bagaimana sistem pabrik sekarang, kita tidak tahu untuk apa kita bekerja," tuturnya.
"Semua orang bekerja keras, bahkan banyak kecelakaan terjadi karena target-target ini, tetapi untuk apa? Untuk sesuatu yang tidak kita ketahui," pungkas Edwin.
- Penulis :
- Aditya Yohan
- Editor :
- Tria Dianti







