Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Melemah Jelang Akhir Pekan Dipengaruhi Sentimen Asia dan Data Ekonomi Global

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

IHSG Melemah Jelang Akhir Pekan Dipengaruhi Sentimen Asia dan Data Ekonomi Global
Foto: (Sumber : Pengunjung melintas di depan layar yang menampilkan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/10/2025). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin (27/10) ditutup melemah 154,57 poin atau 1,87 persen ke level 8.117,15. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/YU.)

Pantau - IHSG Bursa Efek Indonesia pada Jumat pagi melemah mengikuti penurunan bursa kawasan Asia.

Pergerakan IHSG dan Sentimen Global–Regional

IHSG dibuka turun 31,38 poin atau 0,37 persen ke posisi 8.388,54.

Indeks LQ45 juga melemah 4,62 poin atau 0,54 persen ke level 843,40.

Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas menyatakan pasar diharapkan berbalik menguat serempak dan akan dipengaruhi sentimen domestik serta global.

Dari mancanegara, data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih kuat dari ekspektasi memperkuat pandangan bahwa The Fed belum akan melonggarkan kebijakan moneternya.

Data NFP AS September 2025 mencatat penambahan 119.000 pekerjaan namun tingkat pengangguran naik menjadi 4,4 persen.

Klaim pengangguran lanjutan mencapai level tertinggi sejak 2021 sehingga menandakan perekrutan melemah.

Data tersebut memberikan sinyal campuran bagi arah kebijakan suku bunga The Fed.

Pelaku pasar masih mencari posisi antara saham pertumbuhan dan bernilai serta aset berisiko dan aset aman.

Dari kawasan Asia, Jepang menghadapi ancaman stagflasi dengan inflasi naik menjadi 3,1 persen, ekonomi berkontraksi, dan hubungan dagang dengan China memburuk sehingga menekan Bank of Japan.

Tekanan Domestik dan Respons Pasar

Dari dalam negeri, Indonesia menghadapi defisit fiskal dan tekanan eksternal yang memengaruhi sentimen pasar.

Neraca pembayaran kuartal III 2025 mencatat defisit 6,4 miliar dolar AS akibat capital outflow dan pembayaran utang sehingga berpotensi memberi tekanan jangka pendek pada rupiah.

Transaksi berjalan justru mengalami surplus 4,04 miliar dolar AS sebagai surplus pertama sejak 2023 yang didorong lonjakan ekspor nonmigas.

Dari sisi fiskal, APBN mengalami defisit Rp479,7 triliun akibat tingginya belanja negara dan melemahnya penerimaan pajak.

Kondisi tersebut berdampak pada tertundanya pembahasan UMP 2026 serta ketidakpastian rencana kenaikan gaji PNS 2026 karena ruang fiskal yang sempit.

Pemerintah mempertimbangkan Bea Keluar batu bara untuk menambah penerimaan namun kebijakan itu berpotensi menekan margin emiten batu bara.

Pada Kamis 20 November, bursa Eropa ditutup kompak menguat dengan Euro Stoxx 50 naik 0,33 persen, FTSE 100 naik 0,21 persen, DAX Jerman naik 0,50 persen, dan CAC Prancis naik 0,34 persen.

Bursa Amerika Serikat justru melemah dengan Dow Jones turun 0,84 persen ke 45.752,26, S&P 500 turun 1,56 persen ke 6.538,76, dan Nasdaq turun 2,38 persen ke 24.054,38.

Bursa Asia pagi ini turut melemah dengan Nikkei turun 1.085,94 poin atau 2,20 persen ke 48.731,50.

Shanghai Composite turun 82,69 poin atau 2,11 persen ke 3.847,35.

Hang Seng turun 651,96 poin atau 2,46 persen ke 25.203,50.

Strait Times melemah 40,08 poin atau 0,90 persen ke 4.471,48.

Penulis :
Aditya Yohan