Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Rempah Nusantara Berpeluang Bangkit sebagai Kekuatan Ekonomi Global Lewat Hilirisasi

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Rempah Nusantara Berpeluang Bangkit sebagai Kekuatan Ekonomi Global Lewat Hilirisasi
Foto: (Sumber: Warga menjemur rempah jenis kapulaga (Elettaria cardamomum) di Desa Sidoharjo, Candiroto, Temanggung, Jawa Tengah, Jumat (22/8/2025). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Jawa Tengah menjadi salah satu provinsi penghasil kapulaga terbesar di Indonesia, dengan total produksi kapulaga mencapai 27.428.327 kilogram pada tahun ini. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/rwa. (ANTARA FOTO/ANIS EFIZUDIN).)

Pantau - Indonesia dinilai memiliki peluang realistis untuk membangkitkan kembali kejayaan rempah sebagai sumber kedaulatan ekonomi nasional seiring kuatnya permintaan global dan besarnya potensi nilai tambah melalui hilirisasi.

Sejak berabad-abad lalu, Nusantara dikenal sebagai pusat peradaban dan perdagangan dunia berkat lebih dari 275 jenis rempah yang mengendalikan jalur niaga global.

Komoditas seperti pala, cengkih, dan lada tidak hanya menjadi bumbu dapur, tetapi juga penggerak ekspedisi, diplomasi, dan sejarah dunia yang mendorong bangsa Eropa datang silih berganti ke Indonesia.

Kekayaan rempah tersebut bahkan pernah menjadi sumber keuntungan besar VOC dan menempatkan Nusantara sebagai episentrum perdagangan global.

Hingga saat ini, rempah masih memainkan peran penting dalam perekonomian nasional dan menjadi tulang punggung ekonomi rakyat di berbagai daerah.

Data BPS dan LPEI menunjukkan volume ekspor rempah Indonesia pada Januari hingga November 2023 meningkat hampir 30 persen secara tahunan.

Nilai ekspor rempah pada periode tersebut tercatat mencapai sekitar Rp9 triliun atau setara 564 juta dolar AS.

Indonesia menguasai lebih dari 70 persen pangsa pasar cengkih dunia dan menempati peringkat kedua sebagai eksportir lada global.

Komoditas utama seperti cengkih, lada, pala, dan kayu manis tetap menjadi andalan ekspor sekaligus trade mark Indonesia di pasar internasional.

Sepanjang 2023, meskipun volume ekspor meningkat hampir 30 persen, nilai ekspor justru turun sekitar 4 persen akibat pelemahan harga komoditas global.

Tantangan terbesar industri rempah Indonesia terletak pada rendahnya nilai tambah karena ekspor masih didominasi bahan mentah.

Indonesia tercatat berada di peringkat ke-18 dunia untuk produk rempah olahan dengan nilai ekspor sekitar 360 juta dolar AS.

Padahal, pengolahan rempah dapat meningkatkan nilai ekonomi hingga lima sampai tujuh kali lipat.

Contoh hilirisasi antara lain pengolahan cengkih menjadi minyak atsiri serta lada menjadi oleoresin bernilai tinggi.

Ketergantungan pada ekspor bahan mentah dinilai melemahkan daya saing nasional dibandingkan negara seperti India dan China yang unggul dalam industri hilir.

Sektor rempah menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dengan jutaan petani dari Aceh hingga Fakfak menggantungkan hidup pada komoditas tersebut.

Komoditas yang diusahakan meliputi lada, pala, kapulaga, kayu manis, jahe, vanili, hingga gambir yang menopang pendapatan daerah dan berkontribusi pada pengurangan kemiskinan.

Pemerintah memprioritaskan rempah sebagai garda depan industrialisasi nasional sekaligus sumber devisa baru.

Kinerja ekspor bumbu dan rempah olahan tercatat tumbuh 17 persen pada Januari hingga Mei 2024 dengan nilai mencapai 423 juta dolar AS.

Data ekspor pala yang mencapai hampir 198 juta dolar AS pada 2021 serta gambir Sumatera Barat senilai 90 juta dolar AS pada 2022 memperkuat posisi rempah sebagai sunrise industry.

Permintaan global terhadap rempah utama seperti lada, vanili, kayu manis, cengkih, pala, kapulaga, jahe, dan kunyit tetap kuat.

Tujuan ekspor utama meliputi China, Amerika Serikat, India, Vietnam, dan Belanda, serta pasar nontradisional seperti Bangladesh, Pakistan, dan Peru.

India dikenal sebagai raksasa rempah dunia dengan produk bernilai tambah seperti kurkumin dan minyak pala.

Vietnam dalam dua dekade terakhir menjadi produsen lada terbesar dunia sekaligus eksportir utama kayu manis dan bunga lawang.

Indonesia saat ini tercatat sebagai eksportir rempah terbesar kedua dunia setelah Vietnam, namun dominasi negara pesaing di industri hilir menjadi peringatan serius.

Ketergantungan berkelanjutan pada ekspor bahan mentah dinilai membuat nilai ekonomi yang dinikmati Indonesia relatif lebih rendah dibandingkan potensi sesungguhnya.

Penulis :
Aditya Yohan