
Pantau - Pemerintah masih mengkaji rencana pembentukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) khusus sektor tekstil, dengan Danantara sebagai lembaga yang disiapkan untuk mendanai proyek ini hingga 6 miliar dolar AS atau sekitar Rp93 triliun.
CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa pihaknya belum mengambil keputusan final dan masih mengevaluasi secara menyeluruh terkait rencana tersebut.
"Kita masih melihat opsi-opsinya," ungkapnya saat menjawab pertanyaan wartawan terkait pembentukan BUMN tekstil.
Fokus pada Industri Padat Karya
Rosan menyebutkan bahwa setiap investasi yang dilakukan Danantara selalu diawali dengan studi kelayakan dan asesmen menyeluruh.
"Kita di Danantara, semuanya tentunya investasi yang kita lakukan itu sudah dalam feasibility study atau assessment yang penuh dari segala macam sektor. Tentunya juga kita ada kriteria-kriteria atau parameter-parameter yang harus kita penuhi. Termasuk juga, parameter yang kita masuk itu adalah lapangan pekerjaan," ia mengungkapkan.
Menurutnya, Danantara tidak menutup kemungkinan menerima investasi dengan imbal hasil lebih rendah dari standar apabila sektor tersebut memiliki daya serap tenaga kerja yang tinggi.
Sektor tekstil dinilai sebagai industri padat karya yang berpotensi besar dikembangkan kembali, terutama melalui pengelolaan aset bermasalah (distressed asset).
"Kita melihat potensi-potensi yang ada saja, apalagi kalau itu sudah termasuk dalam distressed asset," ujar Rosan.
Arahan Presiden dan Dukungan Dana Besar
Rencana pembentukan BUMN tekstil sebelumnya disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, sebagai tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas di Hambalang, Bogor, pada 11 Januari 2026.
"Bapak Presiden mengingatkan kita pernah mempunyai BUMN tekstil dan ini akan dihidupkan kembali, sehingga pendanaan 6 miliar (dolar AS) nanti akan disiapkan oleh Danantara," kata Airlangga.
Pemerintah juga telah menyusun roadmap penguatan industri tekstil dan produk tekstil (TPT), yang mencakup pengadaan barang modal, penerapan teknologi baru, serta peningkatan ekspor.
"Oleh karena itu sudah dibuat roadmap bagaimana meningkatkan ekspor kita yang dari 4 miliar (dolar AS), bisa naik ke 40 miliar (dolar AS) dalam 10 tahun, dan bagaimana pendalaman dari value chain daripada industri tekstil," jelasnya.
Airlangga juga mengakui adanya kelemahan dalam rantai nilai (value chain) industri tekstil, terutama pada tahap produksi benang, kain, pencelupan, pencetakan, dan penyelesaian akhir.
- Penulis :
- Shila Glorya







