Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Melemah Tipis di Awal Pekan, Analis Prediksi Penguatan Terbatas Menjelang RDG BI

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Rupiah Melemah Tipis di Awal Pekan, Analis Prediksi Penguatan Terbatas Menjelang RDG BI
Foto: (Sumber: Arsip - Petugas menunjukan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Bank BSI, Jakarta. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/Spt. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/Spt.)

Pantau - Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Selasa (20/1), tercatat melemah sebesar 30 poin atau 0,18 persen menjadi Rp16.985 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp16.955 per dolar AS.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan bahwa meskipun terjadi pelemahan, rupiah masih berpeluang menguat seiring tekanan terhadap dolar AS akibat aksi jual obligasi oleh investor global.

Dolar Tertekan, Potensi Rupiah Menguat

Menurut Lukman, aksi jual terhadap obligasi Amerika Serikat telah mendorong kenaikan imbal hasil dari kisaran 4,13 persen menjadi 4,25 persen.

"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang kembali tertekan oleh aksi jual obligasi AS oleh investor", ungkapnya.

Namun, ia menekankan bahwa ruang penguatan rupiah kemungkinan masih terbatas.

Sentimen RDG BI dan Isu Internal

Lukman menjelaskan bahwa pasar saat ini cenderung wait and see menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan digelar pada Rabu (21/1).

Di sisi lain, pengunduran diri Juda Agung sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia dinilai tidak memberikan dampak signifikan terhadap pergerakan rupiah.

"Perihal pengunduran diri Deputi BI memang bukan hal yang positif, namun apapun alasannya, dampaknya tidak akan besar dibandingkan hal-hal yang dikhawatirkan saat ini seperti defisit anggaran dan prospek pemangkasan suku bunga BI", jelas Lukman.

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor eksternal dan internal, nilai tukar rupiah diperkirakan akan bergerak dalam rentang Rp16.700 hingga Rp17.000 per dolar AS.

Penulis :
Ahmad Yusuf