Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Indonesia dan GCC Lanjutkan Perundingan FTA, Targetkan Penyelesaian Substantif pada 2026

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Indonesia dan GCC Lanjutkan Perundingan FTA, Targetkan Penyelesaian Substantif pada 2026
Foto: (Sumber: Pemerintah Indonesia dan negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) melakukan perundingan Persetujuan Perdagangan Bebas Indonesia-GCC (Indonesia-GCC FTA) melalui putaran ke-4 pada 18-23 Januari 2026 di Riyadh, Arab Saudi. ANTARA/HO-Kemendag.)

Pantau - Indonesia dan negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) melanjutkan perundingan Persetujuan Perdagangan Bebas Indonesia-GCC (Indonesia-GCC FTA) melalui putaran ke-4 yang berlangsung di Riyadh, Arab Saudi.

Putaran ke-4 perundingan ini dilaksanakan pada 18–23 Januari 2026 dan menjadi fase penting untuk mendorong penyelesaian substansi kesepakatan dalam tahun ini.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan RI, Djatmiko Bris Wijtaksono, menyatakan bahwa komitmen kuat dan dinamika pembahasan yang konstruktif menjadi modal penting untuk mempercepat proses penyelesaian FTA.

"Kami optimistis dinamika pembahasan yang konstruktif dan solusi yang saling menguntungkan dapat semakin dipercepat sehingga penyelesaian substantif Indonesia-GCC FTA pada 2026 dapat tercapai. Kesepakatan ini akan memperkuat kemitraan ekonomi Indonesia-GCC untuk jangka panjang," ungkapnya.

Bahas Perdagangan, Investasi, hingga Ekonomi Islam

Pelaksanaan putaran ke-4 mencerminkan komitmen berkelanjutan kedua pihak dalam menjaga kesinambungan proses perundingan sekaligus memperdalam substansi perjanjian.

Fokus utama pada perundingan kali ini mencakup isu-isu inti seperti perdagangan barang, perdagangan jasa, investasi, dan ketentuan asal barang.

Selain itu, juga dibahas penguatan kerja sama di sektor ekonomi Islam dan industri halal.

Direktur Perundingan Bilateral Kemendag RI sekaligus Ketua Tim Perunding Indonesia, Danang Prasta Danial, menyebut bahwa putaran ke-4 menjadi momentum penting untuk mengonsolidasikan berbagai capaian pada putaran sebelumnya.

Perundingan ditandai dengan dinamika teknis yang lebih mendalam dan terfokus, seiring dengan meningkatnya pemahaman bersama atas kepentingan masing-masing pihak.

Indonesia dan GCC terus berupaya mengatasi perbedaan melalui dialog yang konstruktif serta menjaga keseimbangan kepentingan dan prinsip saling menguntungkan.

"Kami sama-sama berharap perundingan dapat segera selesai sehingga dapat memperluas akses pasar barang dan jasa Indonesia ke negara-negara Teluk," tambahnya.

Perjanjian Strategis untuk Dorong Daya Saing dan Ekspor

GCC terdiri dari enam negara, yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Oman, dan Qatar.

Perundingan Indonesia-GCC FTA secara resmi diluncurkan pada 31 Juli 2024.

Kesepakatan ini dianggap sebagai instrumen strategis untuk meningkatkan daya saing ekonomi nasional dan memperluas akses pasar produk Indonesia.

Perjanjian ini diproyeksikan dapat mendorong pertumbuhan ekspor Indonesia hingga 17,4 persen.

Sektor-sektor yang diperkirakan mengalami peningkatan ekspor antara lain peralatan elektronik, kulit, produk logam, manufaktur, dan tekstil.

Selain barang, ekspor jasa juga diharapkan meningkat, khususnya pada sektor jasa perhubungan udara dan jasa bisnis ke kawasan Timur Tengah, Afrika, dan Eropa.

Selama periode Januari–November 2025, total perdagangan Indonesia dengan negara-negara GCC tercatat sebesar 15,45 miliar dolar AS.

Dari jumlah tersebut, nilai ekspor Indonesia mencapai 7,59 miliar dolar AS, sementara impor dari GCC sebesar 7,86 miliar dolar AS.

Pada tahun 2024, total perdagangan kedua pihak mencapai 15,58 miliar dolar AS, dengan ekspor Indonesia sebesar 7,04 miliar dolar AS dan impor sebesar 8,54 miliar dolar AS.

Penulis :
Aditya Yohan
Editor :
Aditya Yohan