
Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis sore (tanggal tidak disebut) mengalami pemulihan setelah sempat tertekan tajam dan dihentikan sementara perdagangannya.
IHSG ditutup melemah sebesar 88,35 poin atau 1,06 persen ke posisi 8.232,20.
Meski demikian, indeks LQ45 yang terdiri dari 45 saham unggulan justru mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,47 poin atau 0,06 persen ke level 813,01.
Trading Halt dan Aksi Bargain Hunting Warnai Perdagangan
Pada sesi pagi, IHSG sempat terkena trading halt pada pukul 09.26 WIB setelah anjlok hingga 665,89 poin atau 8,00 persen ke level 7.654,66.
Setelah perdagangan dibuka kembali, IHSG mulai mengalami pemulihan.
"Setelah dibuka kembali, IHSG sempat melemah lebih dalam, namun kemudian terjadi bargain hunting sehingga pelemahan IHSG berkurang," ungkap Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.
Sepanjang hari itu, IHSG dibuka di zona merah dan bertahan negatif hingga penutupan sesi pertama dan sesi kedua perdagangan.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, hanya sektor transportasi & logistik yang mengalami penguatan sebesar 0,36 persen.
Sektor barang konsumen non primer menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 4,78 persen, disusul sektor kesehatan yang turun 3,82 persen, dan sektor properti sebesar 3,65 persen.
Saham-saham yang mencatatkan penguatan tertinggi adalah KIOS, ELIT, CUAN, FORE, dan MEDS.
Sementara itu, saham-saham yang mengalami pelemahan terdalam adalah GOLF, BUMI, VKTR, EXCL, dan BUVA.
Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 4.934.519 kali transaksi dengan volume 99,10 miliar lembar saham dan nilai transaksi mencapai Rp68,17 triliun.
Dari seluruh saham yang ditransaksikan, sebanyak 214 saham menguat, 521 saham melemah, dan 73 saham stagnan.
Respon Otoritas atas Pengumuman MSCI dan Rencana Revisi Regulasi
Pemulihan IHSG terjadi seiring dengan respons positif pelaku pasar terhadap pengumuman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan langkah otoritas terkait untuk memperkuat transparansi pasar.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama BEI akan merevisi aturan mengenai batas minimal saham publik atau free float.
Revisi tersebut akan menaikkan batas minimal free float dari 7,5 persen menjadi 15 persen dan akan diberlakukan mulai Februari 2026.
Kebijakan ini akan berlaku untuk seluruh emiten, baik yang baru mencatatkan sahamnya maupun yang sudah tercatat di BEI.
Apabila emiten tidak memenuhi ketentuan tersebut, akan diterapkan kebijakan exit policy, meski bentuk pasti kebijakan tersebut masih dalam proses penentuan.
BEI dan Self–Regulatory Organization (SRO) akan menyusun proposal yang menyesuaikan kebutuhan MSCI dalam rangka meningkatkan transparansi free float di pasar modal Indonesia.
Selain itu, OJK juga mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan peraturan mengenai demutualisasi BEI, yang ditargetkan terbit pada kuartal I tahun 2026.
OJK juga berencana menyediakan data Ultimate Beneficial Owner (UBO) untuk MSCI, yang akan difokuskan terlebih dahulu untuk saham-saham konstituen indeks IDX100.
Bursa Regional Menguat
Di sisi lain, bursa saham regional Asia pada sore hari itu menunjukkan penguatan.
Indeks Nikkei menguat 53,60 poin atau 0,10 persen ke 53.412,30.
Indeks Shanghai naik 6,73 poin atau 0,16 persen ke 4.157,97.
Indeks Hang Seng menguat 141,17 poin atau 0,51 persen ke 27.968,08.
Sementara itu, Indeks Strait Times naik 20,68 poin atau 0,42 persen ke posisi 4.930,02.
- Penulis :
- Shila Glorya








