
Pantau - Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) meyakini subsektor furnitur, kriya, alas kaki, garmen, dan tekstil memiliki potensi besar sebagai produk ekspor bernilai tambah tinggi dalam 10 tahun ke depan.
Ketua Umum HIMKI, Abdul Sobur, menegaskan bahwa subsektor furnitur dan kriya memiliki keunggulan khas yang sulit ditiru negara lain.
Ia menjelaskan bahwa keunggulan tersebut terletak pada perpaduan material alam, keterampilan tangan, dan kekayaan desain berbasis budaya.
Produk furnitur dan kriya Indonesia kini tidak lagi dipandang sebagai komoditas biasa, melainkan sebagai produk premium yang merepresentasikan identitas, keberlanjutan, dan kualitas hidup.
"Pasar global termasuk Amerika Serikat tidak lagi semata mencari barang murah, tetapi produk dengan cerita, desain dan standar keberlanjutan yang jelas. Dengan mendorong furnitur dan kriya ke depan, pemerintah sesungguhnya sedang menempatkan Indonesia pada jalur ekspor premium dan high-end, yang lebih tahan terhadap fluktuasi harga dan tekanan perang dagang," ungkapnya.
Alas Kaki dan Tekstil Dinilai Strategis untuk Penyerapan Tenaga Kerja
HIMKI menyebut subsektor alas kaki telah terbukti menjadi mesin pertumbuhan ekspor yang efektif.
Industri alas kaki nasional dinilai memiliki basis produksi yang matang dan telah terintegrasi dengan merek global.
Selain itu, sektor ini mampu menyerap tenaga kerja dalam skala besar, menjadikannya strategis secara sosial dan ekonomi.
HIMKI berharap ke depan pemerintah mendorong peningkatan nilai tambah melalui penguatan desain, pengembangan material, serta pembangunan kemampuan original design manufacturing (ODM).
Tujuannya agar industri alas kaki tidak hanya menjadi produsen massal, tetapi juga sebagai penghasil produk bernilai tinggi.
Di sisi lain, HIMKI menilai subsektor garmen dan tekstil tetap memiliki peran penting sebagai penyangga sosial dan ketenagakerjaan nasional.
Namun, organisasi ini mengingatkan bahwa tanpa transformasi nilai tambah, sektor garmen dan tekstil akan terus tertekan oleh persaingan global yang berbasis upah murah.
Untuk menjaga daya saing, HIMKI mendorong pengembangan tekstil fungsional, technical apparel, sistem produksi cepat berbasis pesanan kecil, dan penerapan prinsip keberlanjutan.
Langkah tersebut diyakini dapat menjaga daya saing industri garmen dan tekstil Indonesia di pasar global.
Ekspor Alas Kaki dan Furnitur Naik, Neraca Dagang Surplus
HIMKI menilai bahwa kombinasi subsektor furnitur dan kriya, alas kaki, serta garmen dan tekstil mencerminkan keseimbangan antara penciptaan devisa, penyerapan tenaga kerja, dan peningkatan nilai tambah.
Namun, HIMKI mengingatkan bahwa keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada pendalaman kebijakan, bukan perluasan sektor yang terlalu menyebar.
Pemerintah mencatat bahwa ekspor alas kaki domestik pada triwulan I tahun 2025 mencapai 1,89 miliar dolar AS atau setara Rp30,67 triliun.
Angka tersebut mengalami kenaikan sebesar 13,80 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, target ekspor furnitur secara keseluruhan pada tahun 2025 dinaikkan menjadi 5 miliar dolar AS, dari sebelumnya 2,5 miliar dolar AS di tahun 2024.
Ekspor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) pada tahun 2024 tercatat sebesar 11,9 miliar dolar AS.
Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus pada Desember 2025, melanjutkan tren surplus selama 68 bulan berturut-turut.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan bahwa secara kumulatif sepanjang Januari–Desember 2025, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar 41,05 miliar dolar AS.
Rinciannya adalah ekspor mencapai 282,91 miliar dolar AS dan impor sebesar 241,86 miliar dolar AS.
Surplus tersebut mengalami lonjakan signifikan dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 31,33 miliar dolar AS, atau naik sebesar 9,72 miliar dolar AS.
- Penulis :
- Arian Mesa







