
Pantau - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai bahwa perubahan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif oleh lembaga pemeringkat Moody’s tidak akan berdampak besar terhadap industri perbankan nasional.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyatakan optimisme bahwa revisi tersebut tidak menunjukkan adanya masalah struktural dalam sistem keuangan nasional.
"Saya optimistis tidak akan ada dampak yang signifikan. Tentu saja, sebagaimana yang disampaikan Moody’s, ini adalah konsekuensi penurunan outlook secara menyeluruh," ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa kondisi fundamental perbankan Indonesia, termasuk lima bank besar yang juga terkena revisi outlook, masih dalam keadaan sehat.
"Sebagai KEPB, sekarang pengawasan individual bank itu lebih penting. 105 bank umum itu memang banyak. Tapi buat saya, satu bank bermasalah saja itu sudah menjadi ‘pikiran’," ia mengungkapkan.
Moody’s Turunkan Outlook, Tapi Pertahankan Rating
Pada Kamis, 5 Februari 2026, Moody’s mengumumkan bahwa sovereign credit rating Indonesia tetap di level Baa2, namun outlook-nya berubah menjadi negatif.
Lima bank besar nasional yang terdampak penurunan outlook adalah Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Central Asia (BCA), dan Bank Tabungan Negara (BTN).
Meski outlook memburuk, Moody’s tetap mempertahankan seluruh peringkat utama kelima bank tersebut, seperti issuer ratings, deposit ratings, senior unsecured ratings, serta indikator risiko dan profil kredit lainnya.
Perubahan outlook ini menurut OJK harus menjadi perhatian serius, terutama bagi pemangku kebijakan dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Dian menekankan pentingnya komunikasi yang lebih baik dengan lembaga pemeringkat internasional agar arah kebijakan ekonomi Indonesia bisa dipahami secara komprehensif.
"Kalau pengalaman saya sendiri sebetulnya cukup dengan data informasi dan tentunya arah kebijakan. Jadi semua apapun yang terkait dengan rules regulation, data informasi, arah kebijakan kita, dan lain sebagainya, itu tentu akan kita siapkan nanti," ujarnya.
Fondasi Perbankan Tetap Kuat di Tengah Ketidakpastian
Di tengah perubahan outlook tersebut, industri perbankan nasional menunjukkan kinerja yang tetap solid sepanjang tahun 2025.
Intermediasi perbankan tumbuh positif sebesar 9,63 persen year-on-year (yoy), mencapai Rp8.586 triliun.
Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 13,83 persen yoy, mencapai Rp10.059 triliun.
Likuiditas perbankan juga masih terjaga dengan rasio AL/NCD sebesar 126,15 persen, rasio AL/DPK 28,57 persen, dan Liquidity Coverage Ratio (LCR) sebesar 200,97 persen.
Kualitas kredit menunjukkan perbaikan, dengan Non-Performing Loan (NPL) gross sebesar 2,05 persen dan NPL net di 0,79 persen. Selain itu, Loan at Risk (LaR) juga menurun menjadi 8,77 persen.
Dari sisi profitabilitas, Return on Assets (ROA) berada pada level 2,53 persen, sedangkan rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 25,89 persen, menjadi bantalan kuat menghadapi gejolak ekonomi global.
- Penulis :
- Leon Weldrick








