Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

OJK Dorong Konsep 'Indonesia Incorporated' untuk Tingkatkan Permintaan Kredit Berkelanjutan

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

OJK Dorong Konsep 'Indonesia Incorporated' untuk Tingkatkan Permintaan Kredit Berkelanjutan
Foto: Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menjawab pertanyaan media dalam wawancara cegat (doorstop) usai acara Economic Outlook 2026 di Jakarta, Selasa 10/2/2026 (sumber: ANTARA/Rizka Khaerunnisa)

Pantau - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengusulkan penerapan konsep Indonesia incorporated sebagai strategi kebijakan lintas sektor untuk memperkuat permintaan kredit secara berkelanjutan dan produktif.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyampaikan bahwa pendekatan ini diperlukan agar kebijakan di sektor industri, investasi, perdagangan, dan pembiayaan dapat berjalan secara terintegrasi, tidak sendiri-sendiri.

“Pendekatan kita tentu harus Indonesia incorporated. Tidak ada pilihan lain kalau menurut saya. Jadi artinya di situlah semua pihak harus me-review kebijakannya itu, kemudian akan diarahkan ke mana sebetulnya kita sebagai negara yang besar ini,” ungkapnya dalam acara Outlook Ekonomi 2026 di Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Dian mencontohkan sejumlah negara yang berhasil mendorong percepatan ekonomi melalui kebijakan lintas sektor yang terkoordinasi dengan baik.

Likuiditas Perbankan Cukup, Tapi Permintaan Kredit Masih Lemah

OJK menilai bahwa likuiditas perbankan Indonesia saat ini dalam kondisi mencukupi, namun belum diimbangi dengan permintaan kredit yang kuat dari sektor riil.

“Likuiditas cukup. Bahkan Pak Menteri Keuangan menambah Rp200 triliunan. Tapi Rp2.400 triliun (undisbursed loan) itu masih ada (belum dicairkan). Nah, kalau ini tidak dipakai, ya tidak akan jalan gitu. Nah, ini yang urgent kalau menurut saya. Atasi persoalan ini secara lebih sistemik,” kata Dian.

Ia menyoroti lambatnya penurunan suku bunga kredit meskipun suku bunga acuan telah beberapa kali diturunkan oleh Bank Indonesia sepanjang tahun 2025.

Penempatan Dana di SBN dan SRBI Bagian dari Strategi Likuiditas

Terkait dengan tingginya porsi penempatan dana bank di Surat Berharga Negara (SBN) dan Surat Rupiah Bank Indonesia (SRBI), OJK menegaskan bahwa hal tersebut merupakan bagian dari strategi manajemen likuiditas.

“Orang ada yang menanyakan, ‘Wah, ini kok lazy bank. Bank kok taruhnya (likuiditas) di SBN saja atau di SRBI’. Tidak juga... Kalau ada demand kredit, ya pasti orang ambil kredit, ngapain pula ke SBN,” tegas Dian.

OJK mencatat bahwa indikator likuiditas industri perbankan tetap terjaga, dengan rasio AL/NCD sebesar 126,15%, AL/DPK sebesar 28,57%, dan Liquidity Coverage Ratio (LCR) mencapai 200,97%.

Penyaluran kredit pada 2025 tumbuh sebesar 9,63% year-on-year menjadi Rp8.586 triliun, seiring dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 13,83% menjadi Rp10.059 triliun.

Proyeksi Pertumbuhan Kredit dan Suku Bunga 2026

OJK memproyeksikan pertumbuhan kredit pada tahun 2026 berada di kisaran 10–12% year-on-year, sejalan dengan pertumbuhan DPK sebesar 7–9% year-on-year.

Sementara itu, menurut Bank Indonesia, sepanjang 2025 BI-Rate telah diturunkan sebesar 125 basis poin (bps), namun penurunan suku bunga kredit berlangsung lambat.

Suku bunga kredit hanya turun 39 bps dari 9,20% di awal 2025 menjadi 8,81% pada Desember 2025.

Penulis :
Shila Glorya