
Pantau - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku belum membahas lebih lanjut mengenai penyelesaian utang proyek Kereta Cepat Indonesia-China atau Whoosh dengan pihak Istana Negara.
Purbaya menyampaikan, "Nanti, saya belum dipanggil untuk masalah itu." ungkapnya kepada wartawan usai kegiatan Economic Outlook 2026 di Jakarta.
Ia menjelaskan bahwa pembahasan terakhir mengenai restrukturisasi keuangan KCIC masih menggunakan skema 50:50 yang berarti tidak seluruh beban utang ditanggung oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN.
Purbaya kembali menyatakan, "Seingat saya sih masih 50:50. Ini belum diajak ke sana." terkait skema restrukturisasi tersebut.
Pernyataan Istana dan Proses Finalisasi
Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut sumber pembayaran utang pembangunan Whoosh berasal dari APBN usai Konferensi Pers terkait Stimulus Ekonomi Triwulan I dan Kesiapan Angkutan Idul Fitri 2025 di Stasiun Gambir, Jakarta.
Prasetyo menjelaskan pembahasan sumber pembayaran utang masih dalam tahap finalisasi dan negosiasi teknis mengenai mekanisme pembayaran dipimpin oleh CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani.
Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, pada 29 Oktober 2025 malam memerintahkan jajaran menterinya mencari skema terbaik dengan pembahasan detail angka serta berbagai skenario penyelesaian utang.
Utang Rp116 Triliun Jadi Sorotan Publik
Penyelesaian utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung atau KCJB Whoosh menjadi sorotan publik karena total beban utangnya mencapai Rp116 triliun.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menyatakan upaya restrukturisasi keuangan proyek KCIC atau Whoosh masih membutuhkan proses dan waktu.
Pemerintah juga mengkaji pembentukan komite nasional kereta cepat guna memperkuat koordinasi lintas kementerian dan lembaga dalam pengelolaan proyek tersebut.
- Penulis :
- Leon Weldrick








