
Pantau - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami defisit sebesar Rp54,6 triliun per 31 Januari 2026. Nilai tersebut setara 0,21 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Purbaya menegaskan angka tersebut masih berada dalam batas aman sesuai desain fiskal tahun ini.
“Posisi defisit APBN Rp54,6 triliun atau hanya 0,21 persen dari PDB. Angka ini masih sangat terkendali dan berada dalam koridor desain APBN 2026,” ujarnya.
Meski mencatat defisit, pendapatan negara pada Januari 2026 tumbuh positif 20,5 persen secara tahunan. Realisasi pendapatan negara mencapai Rp172,7 triliun atau 5,5 persen dari target APBN sebesar Rp3.153,6 triliun.
Penerimaan perpajakan terealisasi Rp138,9 triliun atau 5,2 persen dari target. Rinciannya, penerimaan pajak mencapai Rp116,2 triliun atau 4,9 persen dari target, sedangkan penerimaan kepabeanan dan cukai sebesar Rp22,6 triliun atau 6,7 persen dari target.
“Pajak di bulan Januari itu tumbuh 30,7 persen dibandingkan tahun lalu. Ini artinya ada perbaikan makro sedikit atau banyak dari efisiensi pengumpulan pajak di Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Saya harap ke depannya berlanjut terus,” kata Purbaya.
Sementara itu, pendapatan negara bukan pajak (PNBP) tercatat Rp33,9 triliun atau 7,4 persen dari target. Pertumbuhan PNBP terkoreksi 20,4 persen, namun disebut mencerminkan pemulihan di luar komponen non-berulang pada tahun lalu. Penyesuaian terjadi karena penerimaan dividen BUMN kini beralih ke Badan Pengelola Investasi Danantara.
Dari sisi belanja, realisasi belanja negara mencapai Rp227,3 triliun atau 5,9 persen dari target, tumbuh 25,7 persen secara tahunan.
Belanja pemerintah pusat tumbuh 53,3 persen secara tahunan dengan realisasi Rp131,9 triliun atau 4,2 persen dari target. Belanja kementerian/lembaga tumbuh 128,9 persen menjadi Rp55,8 triliun atau 3,7 persen dari target.
Adapun belanja non-kementerian/lembaga terealisasi Rp76,1 triliun atau 4,6 persen dari target, tumbuh 23,4 persen secara tahunan. Transfer ke daerah terealisasi Rp95,3 triliun atau 13,8 persen dari target dengan pertumbuhan 0,6 persen secara tahunan.
Keseimbangan primer tercatat defisit Rp4,2 triliun. Sementara realisasi pembiayaan anggaran mencapai Rp105,1 triliun atau 15,2 persen dari target.
Purbaya menegaskan pembiayaan anggaran dilakukan secara terukur dan antisipatif guna menjaga likuiditas serta stabilitas pasar keuangan.
Ia menekankan APBN 2026 tetap berfungsi optimal sebagai shock absorber sekaligus motor penggerak ekonomi.
“Dengan pendapatan yang tumbuh positif, belanja yang terakselerasi, dan defisit yang tetap terkendali, kami optimistis APBN akan terus menjaga stabilitas sekaligus mendukung momentum pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2026,” ujar Purbaya.
- Penulis :
- Aditya Yohan







