
Pantau - Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Kamis, 26 Februari 2026, menguat 41 poin atau 0,24 persen menjadi Rp16.759 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya Rp16.800 per dolar AS.
Penguatan tersebut dilaporkan ANTARA dari Jakarta dan mencerminkan sentimen positif pasar terhadap aset keuangan domestik.
Sebelumnya, pada penutupan perdagangan Rabu 21 Januari 2026, rupiah juga tercatat menguat 20 poin atau 0,12 persen menjadi Rp16.936 per dolar AS dari Rp16.956 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menyampaikan bahwa penguatan kurs rupiah dipengaruhi oleh tingginya minat pelaku pasar terhadap obligasi pemerintah.
“Minat pelaku pasar terhadap obligasi pemerintah masih tinggi karena masih memberikan imbal hasil yang kompetitif sementara fiskal masih akan dikelola dengan baik,” ungkapnya.
Minat Global Bond Melonjak
Minat pelaku pasar terhadap global bond euro pemerintah Indonesia tercatat sangat tinggi.
Kondisi tersebut terlihat dari tingkat over subscribe sebesar 3,4 kali atau mencapai 9,2 miliar euro dari total penawaran sebesar 2,7 miliar euro.
Menurut Rully, tingginya minat itu menunjukkan bahwa sumber pembiayaan pemerintah untuk memperlebar ruang fiskal masih memadai dengan biaya yang relatif rendah.
Sentimen Tarif AS Turut Mempengaruhi
Selain faktor obligasi, penguatan rupiah juga dipicu oleh respons pasar terhadap pidato Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait kebijakan tarif.
Amerika Serikat mulai menerapkan tarif global sementara sebesar 10 persen dan Gedung Putih dilaporkan berupaya menaikkan tarif tersebut menjadi 15 persen.
Kebijakan itu muncul setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan langkah-langkah tarif resiprokal yang sebelumnya diberlakukan Trump.
Dalam pidatonya di hadapan Kongres AS, Trump menyampaikan bahwa hampir semua negara dan perusahaan ingin mempertahankan kesepakatan tarif yang telah dibuat sebelum keputusan Mahkamah Agung AS terkait tarif dikeluarkan.
“Perang tarif diperkirakan akan mengurangi volume perdagangan dengan AS sehingga kebutuhan dollar baik untuk export-import maupun untuk cadangan devisa akan turun,” ujar Rully.
Penurunan kebutuhan dolar AS akibat potensi berkurangnya volume perdagangan tersebut turut menjadi sentimen positif bagi penguatan rupiah.
Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate JISDOR yang dirilis Bank Indonesia pada hari yang sama juga menguat ke level Rp16.758 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp16.813 per dolar AS.
- Penulis :
- Leon Weldrick







