
Pantau - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan pemerintah belum memiliki rencana untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi meskipun harga minyak dunia berpotensi naik akibat ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Airlangga mengatakan pemerintah masih memantau perkembangan konflik yang terjadi serta dampaknya terhadap harga minyak mentah global sebelum mengambil keputusan kebijakan lebih lanjut.
Airlangga mengatakan, "Belum (menaikkan harga BBM subsidi). Kan (asumsi makro) APBN kita kemarin di 70 dolar AS per barel (ICP). Jadi kita tunggu saja."
Pemerintah juga menyiapkan berbagai skenario untuk mengantisipasi kemungkinan konflik yang berlangsung dalam jangka waktu panjang dan berpengaruh terhadap stabilitas energi nasional.
Airlangga menyampaikan, "Sampai kapan, ya perang bisa 3 bulan, bisa 6 bulan, bisa lebih. Jadi kita masing-masing (menyiapkan) ada skenario."
Ancaman Lonjakan Harga Minyak Dunia
Pakar energi dari Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti memprediksi harga minyak dunia berpotensi melonjak hingga 100 dolar AS per barel dari kisaran sekitar 72 dolar AS per barel jika Selat Hormuz ditutup.
Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan terletak di antara Oman dan Iran.
Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati jalur tersebut sehingga kawasan itu menjadi salah satu titik paling vital dalam distribusi energi global.
Sebagian besar minyak dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak dikirim ke pasar internasional melalui Selat Hormuz.
Yayan menilai jalur ini menjadi titik yang sangat krusial dalam konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Yayan mengatakan, "Jika Iran menutup Selat Hormuz, harga minyak akan naik menjadi 50 persen."
Ia menambahkan bahwa kenaikan harga minyak dunia berpotensi berdampak pada Indonesia karena sebagian kebutuhan minyak nasional masih dipenuhi melalui impor dari kawasan Timur Tengah.
Dampak Konflik Iran dan Amerika Serikat
Bahkan tanpa penutupan Selat Hormuz, konflik yang sedang berlangsung diperkirakan dapat mendorong kenaikan harga minyak dunia sekitar 10 hingga 25 persen.
Jika harga minyak melampaui asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar 70 dolar AS per barel, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan pembengkakan anggaran negara.
Yayan mengingatkan pemerintah agar mengantisipasi kemungkinan kenaikan beban anggaran yang dipicu oleh lonjakan harga minyak global tersebut.
Sebelumnya pada Sabtu 28 Februari, Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran yang menjadi eskalasi terbaru konflik di kawasan Timur Tengah.
Serangan itu merupakan operasi militer kedua yang dilakukan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump setelah serangan pertama pada Juni 2025.
Trump menyatakan pasukan Amerika meluncurkan operasi militer besar di Iran untuk melindungi rakyatnya dengan menghilangkan ancaman yang disebut berasal dari dugaan pengembangan senjata nuklir oleh Iran.
Sebelum konflik terbaru tersebut, Amerika Serikat dan Iran telah melakukan tiga putaran perundingan tidak langsung terkait program nuklir Iran.
Perundingan antara kedua negara tersebut dimediasi oleh Oman.
- Penulis :
- Shila Glorya








