
Pantau - Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance Tauhid Ahmad menilai fasilitas tarif 0 persen dalam Agreement on Reciprocal Trade antara Indonesia dan Amerika Serikat bukan merupakan keistimewaan yang hanya diberikan kepada Indonesia.
Ia menyebut sejumlah negara lain seperti Malaysia dan Vietnam juga memperoleh fasilitas serupa dalam kesepakatan perdagangan tersebut.
Tauhid mengatakan manfaat dari tarif rendah tersebut sangat bergantung pada daya saing industri nasional.
Ia mengatakan, "Banyak negara juga mendapatkan fasilitas yang sama, seperti Malaysia dan Vietnam. Artinya, akses pasar memang terbuka, tetapi kita tetap harus bersaing dengan negara lain yang memiliki kapasitas industri kuat".
Kesepakatan Agreement on Reciprocal Trade antara Indonesia dan Amerika Serikat memberikan tarif 0 persen untuk 1.819 pos tarif produk Indonesia.
Kebijakan tersebut dinilai membuka peluang ekspor yang lebih luas ke pasar Amerika Serikat.
Daya Saing Industri Jadi Faktor Penentu
Tauhid menilai keberhasilan Indonesia memanfaatkan peluang tersebut bergantung pada kesiapan sektor industri nasional.
Faktor yang menentukan antara lain peningkatan produktivitas, kualitas produk, serta efisiensi biaya produksi.
Dalam sektor elektronik misalnya, persaingan dengan negara lain di kawasan Asia Tenggara menjadi tantangan yang nyata.
Tauhid juga menyinggung komoditas kelapa sawit atau CPO yang menjadi salah satu produk unggulan Indonesia.
Ia mengatakan, "Produk seperti CPO memang kita produksi, tetapi pasar juga memiliki alternatif dari negara lain yang mendapatkan fasilitas tarif serupa".
Para pengamat menilai tarif 0 persen dalam kesepakatan tersebut merupakan peluang penting bagi perdagangan Indonesia.
Namun peluang tersebut tidak secara otomatis menjamin peningkatan ekspor nasional.
Tauhid mengingatkan bahwa Indonesia harus memperkuat daya saing industri agar dapat memanfaatkan peluang tersebut secara maksimal.
Ia mengatakan, "Kita tidak boleh terkecoh dengan angka 1.819 pos tarif. Walaupun tarif ekspor menjadi 0 persen, belum tentu ekspor kita langsung meningkat jika kapasitas dan daya saing industri belum siap".
Potensi Dampak terhadap Ekonomi dan Neraca Perdagangan
Kajian Tauhid yang mengacu pada model analisis ekonomi yang dikembangkan oleh IPB memperkirakan dampak tertentu dari kebijakan tarif tersebut.
Dalam skenario tarif 19 persen dengan pengecualian 0 persen untuk produk tertentu, ekspor Indonesia diperkirakan turun sekitar 1,58 persen.
Pada saat yang sama impor diproyeksikan meningkat sekitar 1,51 persen.
Dalam skenario tersebut Produk Domestik Bruto Indonesia diperkirakan terkoreksi sekitar 0,41 persen.
Sementara ekonomi Amerika Serikat diperkirakan mengalami pertumbuhan sebesar 6,54 persen.
Dari sisi neraca perdagangan Indonesia juga perlu mengantisipasi potensi tekanan defisit sekitar 5,7 miliar dolar Amerika Serikat.
Nilai tersebut belum termasuk komitmen pembelian komoditas Amerika Serikat senilai 38,4 miliar dolar Amerika Serikat yang tercantum dalam kesepakatan tersebut.
Beberapa Sektor Dinilai Memiliki Peluang Besar
Direktur Prognosa Research and Consulting Garda Maharsi menilai peluang pemanfaatan kesepakatan tersebut berbeda di setiap sektor industri.
Beberapa sektor dinilai memiliki potensi besar untuk memanfaatkan peluang tersebut.
Sektor tersebut antara lain industri nikel, energi, dan petrokimia.
Komoditas kelapa sawit juga dinilai memiliki peluang untuk memperluas pasar ekspor jika didukung oleh kebijakan yang tepat.
Garda mengatakan, "Sejumlah sektor memang memiliki peluang yang cukup kuat untuk berkembang. Namun agar potensi tersebut terealisasi, perlu dukungan ekosistem industri yang memadai".
Sektor unggulan tersebut perlu didukung berbagai kebijakan strategis seperti kemudahan akses pembiayaan, sistem logistik yang efisien, serta penguatan rantai pasok industri.
Di sisi lain beberapa sektor industri dinilai masih memerlukan penguatan kapasitas seperti industri tekstil, produk logam, dan mineral.
Direktur Public Affairs Praxis sekaligus Wakil Ketua Umum Public Affairs Forum Indonesia Sofyan Herbowo menilai kesiapan kapasitas industri menjadi faktor penting dalam memanfaatkan kesepakatan perdagangan tersebut.
Sofyan mengatakan Indonesia masih memiliki posisi kuat di pasar global untuk komoditas tertentu.
Ia mengatakan, "Indonesia masih menjadi salah satu produsen terbesar dunia untuk CPO sehingga memiliki pengaruh dalam pembentukan harga di pasar global".
Namun untuk sektor industri dengan rantai pasok panjang seperti tekstil diperlukan waktu dan strategi penyesuaian sebelum dapat memanfaatkan peluang ekspor secara optimal.
- Penulis :
- Gerry Eka








