
Pantau - Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi bergerak melemah pada perdagangan Senin.
Salah satu sentimen yang memicu potensi pelemahan IHSG adalah lonjakan harga minyak mentah global yang telah menembus di atas 100 dolar Amerika Serikat per barel.
Maximilianus Nico Demus menyampaikan hasil analisis teknikal dengan mengatakan, "Berdasarkan analisis teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 7.460- 7.860".
Lonjakan harga minyak dunia dipicu oleh meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Pasukan Amerika Serikat dan Israel dilaporkan menargetkan sejumlah fasilitas militer serta menyerang infrastruktur energi Iran.
Serangan tersebut mencakup depot penyimpanan minyak dan fasilitas terkait di sekitar Teheran serta provinsi Alborz yang memicu kebakaran besar.
Sebagai balasan atas serangan tersebut, Iran meluncurkan serangkaian serangan menggunakan rudal balistik dan drone ke Israel.
Iran juga menargetkan aset militer Amerika Serikat termasuk pangkalan militer yang berada di beberapa negara di kawasan Timur Tengah.
Konflik yang terus berlangsung meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan perdagangan minyak dunia.
Kekhawatiran tersebut muncul karena kawasan Timur Tengah serta Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi energi global.
Pada pukul 07.50 WIB, harga minyak global tercatat mengalami kenaikan signifikan.
- Harga Crude Oil WTI tercatat mencapai 109,82 dolar Amerika Serikat per barel.
- Harga Brent Oil juga tercatat berada pada level 109,53 dolar Amerika Serikat per barel.
Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasokan Energi
Maximilianus Nico Demus menilai eskalasi serangan terhadap fasilitas energi Iran berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Ia menjelaskan, "Kami menilai eskalasi serangan terhadap fasilitas energi Iran berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia karena meningkatkan risiko gangguan pasokan, terutama jika konflik mempengaruhi jalur pelayaran di Selat Hormuz yang menyalurkan sekitar seperlima perdagangan minyak global".
Dari dalam negeri, pemerintah membuka opsi untuk melakukan penyesuaian anggaran Program Makan Bergizi Gratis atau menaikkan harga BBM bersubsidi.
Kebijakan tersebut dipertimbangkan apabila lonjakan harga minyak dunia memberikan tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2026.
Tanpa adanya penyesuaian kebijakan, defisit APBN diperkirakan berpotensi melebar hingga mencapai 3,6 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Kebijakan efisiensi belanja negara serta penundaan sejumlah proyek infrastruktur dinilai dapat membantu menjaga disiplin fiskal dan menahan pelebaran defisit APBN.
Namun demikian, langkah tersebut berpotensi memperlambat realisasi proyek pembangunan serta aktivitas ekonomi di sektor konstruksi.
Maximilianus Nico Demus juga menyampaikan potensi dampak kenaikan harga BBM bersubsidi dengan mengatakan, "Sementara itu, apabila pada akhirnya pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi, dampaknya bisa memicu kenaikan inflasi, meningkatkan biaya transportasi dan logistik, serta menekan daya beli masyarakat".
Bursa Global Melemah, IHSG Ditutup Turun
Pada perdagangan Jumat, bursa saham Amerika Serikat di Wall Street mengalami pelemahan.
- Indeks Dow Jones Industrial Average tercatat turun sebesar 0,95 persen ke level 47.501,55.
- Indeks S&P 500 tercatat melemah sebesar 1,33 persen ke level 6.740,02.
- Indeks Nasdaq Composite juga mengalami penurunan sebesar 1,59 persen ke level 22.387,68.
Pada perdagangan Jumat pekan sebelumnya, IHSG ditutup melemah sebesar 124,85 poin atau turun 1,62 persen ke posisi 7.585,68.
Kelompok 45 saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45 juga mengalami penurunan sebesar 11,77 poin atau 1,49 persen ke posisi 776,04.
- Penulis :
- Aditya Yohan








