Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Anjlok 2,79 Persen Dipicu Lonjakan Harga Minyak dan Ketegangan Timur Tengah

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

IHSG Anjlok 2,79 Persen Dipicu Lonjakan Harga Minyak dan Ketegangan Timur Tengah
Foto: (Sumber : Pengunjung melintas di depan layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (4/3/2026). IHSG ditutup turun 362,71 poin setara 4,57 persen ke level 7.577,06. ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/YU.)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Senin pagi melemah tajam mengikuti pelemahan bursa saham di kawasan Asia akibat lonjakan harga minyak global yang dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah.

IHSG dibuka turun sebesar 211,38 poin atau sekitar 2,79 persen ke posisi 7.374,31.

Kelompok 45 saham unggulan yang tergabung dalam Indeks LQ45 juga melemah sebesar 22,31 poin atau sekitar 2,87 persen ke level 753,74.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengingatkan investor agar berhati-hati menghadapi kondisi pasar yang masih bergejolak.

"Kiwoom Research ingatkan para investor bahwa volatilitas masih akan tinggi sepekan ini, dengan risiko konsolidasi lanjutan ke arah 7.335. Perbanyak sikap wait and see sambil perhatikan sentimen global," ungkapnya.

Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Minyak

Ketegangan geopolitik meningkat setelah konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran meluas ke berbagai wilayah.

Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.

Kondisi ini membuat investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang lebih aman dan likuid.

Peralihan tersebut mendorong penguatan dolar Amerika Serikat sementara saham dan aset berisiko lainnya mengalami tekanan.

Ketidakpastian semakin meningkat setelah Iran menunjuk Mojtaba Khamenei, putra dari pemimpin tertinggi yang tewas Ali Khamenei, sebagai Supreme Leader baru.

Penunjukan figur yang dikenal dekat dengan kelompok garis keras itu dinilai meningkatkan risiko bahwa Iran tidak akan segera melunak dalam konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.

Lonjakan ketegangan tersebut turut memicu kenaikan tajam harga minyak dunia.

Harga minyak Crude Oil WTI naik 20,81 persen menjadi 109,82 dolar AS per barel.

Sementara itu harga minyak Brent Oil meningkat 18,17 persen menjadi 109,53 dolar AS per barel.

"Lonjakan harga energi meningkatkan risiko inflasi global serta dapat menekan pertumbuhan ekonomi melalui kenaikan harga bahan bakar dan biaya produksi. Beberapa produsen energi Timur Tengah mulai mengurangi produksi akibat gangguan rantai pasokan," ujar Liza.

Investor Cermati Inflasi AS dan Risiko Fiskal Indonesia

Pelaku pasar pada pekan ini juga memantau perkembangan hubungan perdagangan antara Amerika Serikat dan China menjelang rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada akhir Maret 2026.

Pertemuan tersebut diperkirakan lebih berfokus menjaga stabilitas hubungan ekonomi dibandingkan melakukan perubahan besar dalam kerja sama bisnis dan investasi.

Amerika Serikat juga ingin memastikan China tetap memenuhi komitmennya dalam kesepakatan perdagangan, termasuk pembelian produk pertanian AS, pesawat Boeing, serta pasokan rare earth.

Salah satu potensi kesepakatan yang tengah dibahas adalah pembelian sekitar 500 pesawat narrow-body Boeing oleh China.

Pelaku pasar juga menaruh perhatian pada rilis data Consumer Price Index Amerika Serikat untuk Februari 2026.

Inflasi yang lebih tinggi berpotensi menunda rencana pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve.

Saat ini probabilitas pemangkasan suku bunga sekitar 25 basis poin pada Juni 2026 diperkirakan berada di kisaran 45 persen.

Dari dalam negeri, pemerintah Indonesia tengah menyusun simulasi dampak lonjakan harga minyak terhadap kondisi fiskal negara.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan jika harga minyak rata-rata mencapai 92 dolar AS per barel maka defisit APBN berpotensi melebar hingga sekitar 3,6 hingga 3,7 persen dari Produk Domestik Bruto apabila tidak ada penyesuaian kebijakan.

Pemerintah saat ini berupaya menjaga defisit tetap berada di bawah batas 3 persen dari Produk Domestik Bruto sesuai kerangka disiplin fiskal.

Bursa Global Kompak Melemah

Pada perdagangan Jumat 6 Maret 2026, bursa saham Eropa juga tercatat melemah.

Indeks Euro Stoxx 50 turun 1,09 persen, FTSE 100 Inggris melemah 1,24 persen, DAX Jerman turun 0,94 persen, dan CAC 40 Prancis melemah 0,65 persen.

Bursa saham Amerika Serikat di Wall Street juga bergerak turun pada perdagangan yang sama.

  • Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,95 persen ke level 47.501,55.
  • Indeks S&P 500 melemah 1,33 persen ke level 6.740,02.
  • Indeks Nasdaq Composite turun 1,59 persen ke level 22.387,68.

Bursa saham regional Asia juga mengalami tekanan pada perdagangan Senin pagi.

  • Indeks Nikkei 225 turun 4.185,60 poin atau 7,53 persen ke posisi 51.435,00.
  • Indeks Shanghai Composite turun 57,98 poin atau 1,41 persen ke posisi 4.066,70.
  • Indeks Hang Seng turun 797,78 poin atau 3,10 persen ke posisi 24.959,26.
  • Indeks Straits Times Index turun 148,93 poin atau 3,07 persen ke posisi 4.699,68.
Penulis :
Aditya Yohan