Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Menguat Tipis ke Rp16.886 per Dolar AS, Tekanan Global Masih Membayangi

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Rupiah Menguat Tipis ke Rp16.886 per Dolar AS, Tekanan Global Masih Membayangi
Foto: (Sumber : Petugas menghitung uang pecahan rupiah. ANTARA/Ananto Pradana.)

Pantau - Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta pada Selasa pagi tercatat menguat 63 poin atau 0,37 persen menjadi Rp16.886 per dolar Amerika Serikat dari posisi penutupan sebelumnya sebesar Rp16.949 per dolar AS.

Meski menguat pada awal perdagangan, ruang penguatan rupiah dinilai masih relatif terbatas.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menyatakan pasar masih sangat sensitif terhadap perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah serta pergerakan harga minyak dunia.

"Untuk perdagangan hari ini, rupiah masih cenderung bergerak dalam tekanan, tetapi pelemahannya diperkirakan dalam kisaran Rp16.825 sampai Rp16.975 per dolar AS. Level Rp17 ribu per dolar AS sekarang menjadi ambang penting, karena sejumlah proyeksi pasar juga menempatkan level itu sebagai batas tekanan terdekat bila sentimen belum membaik," ungkapnya.

Sentimen Global Tekan Rupiah

Josua menjelaskan bahwa sentimen global saat ini masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah.

Konflik di kawasan Timur Tengah atau Asia Barat menyebabkan harga minyak melonjak tajam.

Harga minyak bahkan sempat menembus lebih dari 115 dolar AS per barel pada sesi perdagangan Asia.

Pada Senin harga minyak kembali menembus angka 100 dolar AS per barel.

Dalam situasi ketidakpastian global, dolar Amerika Serikat cenderung menguat karena dianggap sebagai aset aman oleh pelaku pasar.

Selain itu pasar juga mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat.

Di kawasan Asia, mata uang regional juga menunjukkan tren pelemahan.

Pelemahan tersebut dipicu oleh harga minyak yang tinggi, penguatan dolar AS, serta meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar.

Risiko dari Faktor Domestik

Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari kekhawatiran terhadap kondisi fiskal.

Defisit anggaran pada Februari 2026 tercatat melebar menjadi 0,50 persen dari produk domestik bruto.

Imbal hasil surat utang negara juga mengalami kenaikan.

Kepemilikan investor asing atas surat utang negara mengalami penurunan.

Selain itu tingkat keyakinan konsumen juga tercatat sedikit melemah.

Josua menyebut Bank Indonesia masih memprioritaskan stabilitas nilai tukar rupiah.

Hal tersebut membuat ruang penurunan suku bunga menjadi terbatas karena kebijakan moneter diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah.

"Jika perang terus berlanjut dalam jangka panjang, dampaknya terhadap rupiah bisa lebih berat daripada tekanan saat ini, karena pasar sejauh ini pada dasarnya masih menganggap gangguan tersebut belum permanen," ujarnya.

Ia menilai perang yang berlangsung dalam jangka panjang dapat membuat harga energi tetap tinggi.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya impor dan logistik.

Tekanan inflasi dalam negeri juga berpotensi meningkat.

Neraca eksternal serta kondisi fiskal negara berisiko menjadi lebih rentan.

Arus dana asing ke pasar keuangan domestik juga berpotensi semakin tertahan.

Jika kondisi tersebut terjadi, nilai tukar rupiah berpotensi menembus Rp17.000 per dolar AS dan bertahan lemah lebih lama.

Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan serta mendorong kebijakan moneter yang berfokus pada stabilitas nilai tukar.

"Dengan kata lain, arah rupiah ke depan sangat ditentukan oleh dua hal, yaitu seberapa lama perang berlangsung dan apakah harga minyak dapat turun kembali secara meyakinkan," kata Josua.

Penulis :
Aditya Yohan