
Pantau - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi menyatakan stok dan pasokan bahan bakar minyak untuk operasional kereta api dalam kondisi aman selama periode arus mudik dan balik Idul Fitri 1447 Hijriah.
Anggota Komite BPH Migas Bambang Hermanto menyampaikan bahwa kebutuhan BBM untuk operasional kereta api diperkirakan meningkat seiring bertambahnya jumlah perjalanan kereta api pada masa Lebaran.
"Kami telah berdiskusi dan mendengarkan paparan dari PT KAI Persero maupun PT Pertamina Patra Niaga dan PT Patra Logistik. Stok untuk menghadapi Lebaran 2026, dinyatakan aman dan terkendali," ungkapnya.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah kunjungan ke PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi 6 Yogyakarta.
Puncak Penggunaan BBM Diprediksi 18–24 Maret
Bambang Hermanto yang akrab disapa Baher menjelaskan bahwa puncak penggunaan BBM subsidi untuk sektor kereta api di wilayah Daop 6 Yogyakarta diperkirakan terjadi pada 18, 23, dan 24 Maret 2026.
BPH Migas juga meninjau kesiapan sarana dan prasarana serta pelayanan di lingkungan perkeretaapian.
Dari hasil peninjauan tersebut, fasilitas dinilai memadai untuk melayani lonjakan penumpang selama periode Lebaran.
"Sarana dan prasarana juga kita lihat cukup baik. Pelayanannya baik, ramah, lokasinya cukup bersih dan tertata dengan baik," katanya.
Daerah Operasi 6 Yogyakarta merupakan pusat operasional kereta api yang menghubungkan wilayah Yogyakarta dan Solo dengan berbagai kota di Pulau Jawa.
Wilayah tersebut mencakup sejumlah stasiun besar seperti Stasiun Tugu, Lempuyangan, Klaten, Solo Balapan, Purwosari, dan Solo Jebres.
Kunjungan tersebut turut dihadiri Anggota Komite BPH Migas Baskara Agung Wibawa serta Deputi Daop 6 KAI Rahim Ramdhani.
Pasokan Energi dan Program Minyak Jelantah
Selain meninjau operasional kereta api, BPH Migas juga memastikan keandalan pasokan BBM dan LPG melalui kunjungan lapangan di Semarang dan Yogyakarta.
"Ketahanan stok untuk solar di Integrated Terminal Semarang bisa sampai 15 hari, kemudian untuk LPG juga aman. Oleh karena itu, saya mengimbau masyarakat tenang dan tidak panic buying belanja berlebihan, karena ketahanan stok yang ada di Terminal Pengapon ini cukup untuk melayani kebutuhan," jelasnya.
Dari hasil kunjungan tersebut juga ditemukan SPBU yang memiliki fasilitas mesin pengumpulan minyak jelantah atau used cooking oil.
Mesin tersebut memungkinkan masyarakat menjual minyak goreng bekas yang kemudian dibeli oleh Pertamina sekitar Rp5.500 per liter.
Minyak jelantah tersebut dapat diolah kembali menjadi bahan bakar alternatif untuk kendaraan bermotor hingga pesawat.
Program tersebut dinilai mendukung pengembangan energi ramah lingkungan karena berasal dari bahan baku kelapa sawit.
"Minyak jelantah yang terbuat dari kelapa sawit ini menunjukkan bahwa bahan bakar yang kita miliki adalah bahan bakar yang memenuhi syarat green energy," ujarnya.
Sementara itu Anggota Komite BPH Migas Baskara Agung Wibawa memastikan pasokan LPG dan avtur juga dalam kondisi aman.
"Ketersediaan LPG cukup bagi masyarakat Yogyakarta. Kemudian avtur, baik untuk New Yogyakarta Airport maupun Adi Soetipto Airport juga telah disiapkan Pertamina Patra Niaga, sehingga cadangannya cukup untuk kebutuhan mudik maupun arus balik Lebaran," katanya.
- Penulis :
- Gerry Eka








