Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Menguat ke Rp16.968 per Dolar AS di Tengah Sikap Wait and See Pasar Global

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Rupiah Menguat ke Rp16.968 per Dolar AS di Tengah Sikap Wait and See Pasar Global
Foto: (Sumber : Petugas memindahkan tumpukan uang tunai di Pooling Cash Plaza Mandiri, Jakarta Selatan, Selasa (9/1/2024). ANTARA FOTO/Rizka Khaerunnisa/sgd/tom..)

Pantau - Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Selasa pagi, menguat sebesar 29 poin atau 0,17 persen menjadi Rp16.968 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.997 per dolar AS.

Penguatan rupiah dipengaruhi oleh sikap pelaku pasar yang cenderung wait and see menjelang keputusan kebijakan moneter global.

Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa, mengatakan, "Nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan akan bergerak dinamis dengan kecenderungan stabil hingga menguat terbatas, seiring sikap wait and see pelaku pasar menjelang keputusan kebijakan moneter global."

Ia menyebut pergerakan rupiah diproyeksikan berada di kisaran Rp16.900 hingga Rp17.020 per dolar AS.

Faktor eksternal dinilai menjadi penggerak utama pergerakan nilai tukar rupiah.

Penguatan awal rupiah mencerminkan adanya arus masuk modal jangka pendek meski potensi penguatan lanjutan masih terbatas.

Amru mengungkapkan, "Apabila The Fed kembali menegaskan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama, maka dolar AS berpeluang melanjutkan penguatannya dan memberi tekanan pada mata uang emerging market, termasuk rupiah."

Kenaikan imbal hasil obligasi global turut meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS.

Kondisi tersebut berpotensi mendorong arus keluar modal dari negara berkembang.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga menjadi sentimen global yang memengaruhi pasar.

Kenaikan tensi tersebut mendorong peningkatan harga energi yang turut berdampak pada pergerakan mata uang.

Dari sisi domestik, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih kuat.

Stabilitas ekonomi ditopang oleh inflasi yang terkendali serta sistem keuangan yang tetap terjaga.

Upaya stabilisasi oleh Bank Indonesia juga dinilai mampu menahan volatilitas nilai tukar rupiah.

Amru menyatakan, "Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) hari ini, Bank Indonesia diperkirakan akan kembali menahan suku bunga acuan BI-Rate di level 4,75 persen."

Ia menambahkan, "Kebijakan ini mencerminkan komitmen bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus memastikan inflasi tetap berada dalam target 2,5 persen pada periode 2026-2027, di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi."

Penulis :
Ahmad Yusuf