
Pantau - Kebijakan Work From Home (WFH) satu hari dalam sepekan dinilai menjadi langkah strategis dalam mentransformasi budaya kerja nasional menuju sistem yang lebih efisien dan adaptif.
Digitalisasi dan Efisiensi Kerja
Penerapan WFH melalui Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan mendorong perubahan dari pola kerja konvensional ke sistem berbasis digital.
Penggunaan aplikasi manajemen, absensi daring, dan platform kolaborasi memungkinkan pekerjaan tetap berjalan efektif meski tanpa kehadiran fisik di kantor.
Sistem ini juga memungkinkan pemantauan kinerja secara real-time melalui indikator kinerja utama atau Key Performance Indicators sehingga produktivitas tetap terjaga.
Selain itu, kebijakan ini dinilai mampu mengurangi konsumsi energi serta mendukung efisiensi penggunaan sumber daya di tengah tekanan ekonomi global.
Dampak Ekonomi dan Produktivitas
WFH disebut sebagai mesin efisiensi yang dapat menekan biaya operasional seperti penggunaan fasilitas kantor, air, dan pemeliharaan gedung.
Pengurangan mobilitas juga berdampak pada efisiensi waktu dan menurunkan tingkat kelelahan fisik serta mental pekerja.
Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan kualitas kerja dan daya saing organisasi dalam jangka panjang.
Sejumlah negara seperti Islandia, Belgia, dan Inggris telah lebih dulu menerapkan sistem kerja fleksibel dengan hasil positif, termasuk peningkatan produktivitas dan penurunan tingkat pengunduran diri.
Indonesia memilih skema WFH satu hari per minggu sebagai langkah transisi moderat menuju sistem kerja yang lebih fleksibel dan berkelanjutan.
Langkah ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan ekonomi nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan pekerja.
- Penulis :
- Aditya Yohan









