
Pantau - Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) dinilai memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui dampak berganda (multiplier effect) dari aktivitas operasionalnya.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pertamina Rinto Pudyantoro mengatakan, "Bukan hanya terhadap penerimaan negara, tetapi juga peningkatan pendapatan daerah hingga menciptakan lapangan kerja dan pengembangan infrastruktur."
Ia menjelaskan kontribusi tersebut terlihat dari berbagai komponen seperti dana bagi hasil (DBH), pajak bumi dan bangunan (PBB Migas), serta participating interest sebesar 10 persen yang melibatkan Badan Usaha Milik Daerah.
Kontribusi Nyata ke Pendapatan dan Ekonomi Lokal
Rinto mencontohkan pada 2023 Provinsi Riau menerima DBH migas sebesar Rp3,6 triliun dan PBB migas Rp3,9 triliun.
Ia mengungkapkan, "Seringkali muncul persepsi bahwa keberadaan industri migas tidak memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar."
Namun, ia menegaskan, "Jika dilihat secara komprehensif, industri ini justru memberikan dampak ekonomi yang sangat besar dan berlapis bagi daerah."
Selain itu, aktivitas wilayah kerja migas turut mendorong perputaran ekonomi lokal melalui belanja barang dan jasa serta keterlibatan pelaku usaha daerah.
Tantangan Pemanfaatan dan Peran Berkelanjutan
Dampak sektor migas juga tercermin dari kontribusi terhadap industri turunan, penyediaan energi domestik, hingga pembangunan fasilitas umum.
Program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan pengembangan masyarakat juga disebut memperkuat dampak sosial ekonomi di wilayah operasi.
Rinto menyatakan, "Multiplier effect industri hulu migas tidak hanya berhenti pada penerimaan negara, tetapi juga menjalar ke berbagai sektor."
Ia juga menyoroti kontribusi PBB migas yang pada 2022 mencapai Rp13,711 triliun atau lebih dari 50 persen dari total PBB nasional sebesar Rp24,01 triliun.
Meski demikian, ia menambahkan, "Jika pemerintah daerah bisa tepat membelanjakan dana tersebut untuk pembangunan maka hal itu dapat memberikan manfaat ekonomi yang besar bagi masyarakat."
Rinto menegaskan bahwa di tengah penurunan produksi, sektor hulu migas tetap menjadi penopang penting perekonomian nasional dan daerah.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








