HOME  ⁄  Ekonomi

Gubernur BI Perry Warjiyo Sebut Ruang Penurunan Suku Bunga Kian Sempit Akibat Gejolak Global

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Gubernur BI Perry Warjiyo Sebut Ruang Penurunan Suku Bunga Kian Sempit Akibat Gejolak Global
Foto: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memaparkan materi dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu 8/4/2026 (sumber: ANTARA/Rizka Khaerunnisa)

Pantau - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan ruang untuk menurunkan suku bunga acuan BI-Rate semakin terbatas seiring meningkatnya ketidakpastian global yang dipicu konflik di Timur Tengah.

Ia menegaskan Bank Indonesia saat ini mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen dengan fokus utama menjaga stabilitas ekonomi nasional.

"Meskipun BI-Rate kami pertahankan 4,75 persen, tampaknya ke depan untuk ruang penurunannya kemungkinan semakin lama semakin tertutup dan kami juga harus menyikapi untuk stabilitas," ungkapnya.

Ketidakpastian Global Tekan Ekonomi

Perry menjelaskan kondisi ekonomi global diperkirakan memburuk akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang berdampak melalui jalur komoditas, perdagangan, dan finansial.

Pada jalur komoditas, harga minyak dunia meningkat dan sempat menyentuh 122,95 dolar AS per barel pada periode Februari hingga Maret serta masih berfluktuasi.

Harga emas juga tercatat meningkat sepanjang 2025 dan bertahan pada level tinggi.

Di sektor perdagangan, konflik memicu gangguan rantai pasok global yang berdampak pada aktivitas ekonomi antarnegara.

Sementara pada jalur finansial, ketidakpastian pasar meningkat yang ditandai dengan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury pada tenor 2 tahun dan 10 tahun.

Kenaikan yield tersebut dipengaruhi pelebaran defisit fiskal Amerika Serikat termasuk untuk pembiayaan perang.

Dampak global tersebut turut menekan ekonomi Indonesia melalui sisi fiskal akibat kenaikan harga minyak serta tekanan di pasar keuangan.

Aliran modal asing yang sebelumnya masuk ke negara berkembang kini berbalik menjadi outflow pada instrumen obligasi, saham, dan aset keuangan lainnya.

Penguatan dolar Amerika Serikat juga memperbesar tekanan terhadap pasar keuangan global.

"Dan ini membuat kenapa dari sisi Bank Indonesia kami perlu merekalibrasi berbagai kebijakan yang kami lakukan," ujarnya.

Strategi BI Jaga Stabilitas dan Likuiditas

Bank Indonesia mulai memperkuat instrumen lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI sejak awal tahun guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan menahan aliran modal keluar.

"SRBI yang tahun lalu kami mampu turunkan secara cepat, ini memang harus kita lakukan rekalibrasi supaya memang menarik inflow," katanya.

Selain itu, BI memastikan kecukupan likuiditas tetap terjaga dengan mempertahankan pertumbuhan uang primer atau M0 pada kisaran dua digit yakni sekitar 13,3 persen per Februari 2026.

Bank Indonesia juga terus melakukan pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder dengan total mencapai Rp90,05 triliun secara year to date.

"Inilah beberapa rekalibrasi di mana kebijakan moneter memang bobotnya sekarang lebih banyak untuk pro-stability," jelasnya.

Dalam pernyataan terbarunya, BI tidak lagi memberikan sinyal penurunan suku bunga dan memilih mempertahankan BI-Rate di tengah ketidakpastian global.

"Dengan adanya dampak perang Timur Tengah, itu kenapa kami dalam pernyataan ini tidak lagi menyampaikan kemungkinan penurunan suku bunga. Itu kami hilangkan dari pernyataan ini karena memang kemungkinan kami akan tetap mempertahankan BI-Rate selama ini," tegasnya.

Bank Indonesia diketahui telah mempertahankan suku bunga sejak Oktober 2025 setelah sebelumnya menurunkannya sebesar total 150 basis poin sejak September 2024, termasuk penurunan 125 basis poin sepanjang 2025.

Penulis :
Arian Mesa