
Pantau - Harga kedelai di pasaran mengalami kenaikan signifikan sehingga Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengimbau masyarakat untuk menyesuaikan kebutuhan konsumsi pangan dengan beralih ke komoditas lain yang lebih terjangkau namun tetap bergizi.
Imbauan Diversifikasi Pangan dan Urban Farming
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, menyatakan bahwa masyarakat perlu melakukan diversifikasi pangan untuk meminimalisir dampak kenaikan harga kedelai.
Ia mengungkapkan, “Untuk meminimalisir dampak kenaikan harga kedelai, dengan menghimbau masyarakat agar menyesuaikan kebutuhan konsumsi pangannya dengan komoditas pangan lainnya yang memiliki nilai gizi yang seimbang, namun dengan harga yang lebih terjangkau (diversifikasi pangan),”.
Selain itu, masyarakat juga didorong untuk menerapkan urban farming atau pertanian perkotaan sebagai langkah alternatif dalam menjaga ketahanan pangan keluarga secara mandiri.
Dampak Kenaikan Harga bagi Pelaku Usaha
Kenaikan harga kedelai terjadi di berbagai tingkat perdagangan, mulai dari pengrajin tahu dan tempe yang mengalami kenaikan dari Rp8.000–Rp8.600 per kilogram menjadi Rp10.500–Rp11.000 per kilogram, hingga pedagang pasar tradisional yang naik dari Rp13.000–Rp18.000 per kilogram menjadi Rp15.000–Rp20.000 per kilogram.
Kondisi ini turut berdampak pada pelaku usaha, termasuk pengrajin keripik tempe di Jakarta Selatan yang terpaksa menyesuaikan harga jual produknya.
Ketua kelompok pengrajin tempe Kramat Pela, Joko Asori, mengatakan, “Harga keripik tempe sebelumnya Rp65.000 per kilogram (kg), naik jadi Rp70.000 per kg,”.
Ia menambahkan bahwa harga satu bungkus keripik tempe dengan berat 250 gram kini mencapai Rp19.000 akibat kenaikan bahan baku.
Menurut Joko, kenaikan harga kedelai mulai dirasakan sejak Februari 2026 dari Rp930.000 per kuintal dan meningkat menjadi sekitar Rp1.100.000 per kuintal pada April 2026.
Ia mengungkapkan ketidakpastian penyebab kenaikan tersebut, “Apa ada dampaknya dengan antara Iran dengan Amerika, saya sendiri nggak tahu. Yang jelas, saat ini pengrajin tempe dan tahu itu sangat-sangat memerlukan modal banyak karena dari per kuintal itu, naiknya kurang lebih hampir Rp200.000 atau Rp170.000 per kuintal. Itu baru bahan bakunya, ya,”.
Untuk menyiasati kenaikan harga, pengrajin memilih tidak langsung menaikkan harga jual, melainkan mengurangi berat produk agar tetap terjangkau bagi konsumen.
Ia menjelaskan, “Kalau masalah pengrajin tempe, harga naik, nggak mungkin dinaikin harganya, contoh yang semula sekilonya itu misalkan Rp12.500, paling dikurangi dari sekilo menjadi misalkan 970 gram, dikurangi 30 gram,”.
Langkah tersebut dilakukan agar pelanggan tetap loyal sekaligus menyesuaikan dengan kondisi kenaikan harga bahan baku, sementara pelaku usaha berharap adanya dukungan lebih dari pemerintah bagi UMKM lokal.
- Penulis :
- Shila Glorya








