
Pantau - Pemerintah Indonesia mengamankan pasokan nafta dari India, Afrika, dan Amerika Serikat sebagai respons atas gangguan suplai dari kawasan Timur Tengah yang memicu lonjakan harga plastik dalam negeri.
Langkah ini dilakukan karena nafta merupakan bahan baku utama dalam produksi plastik yang sangat bergantung pada pasokan global.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman menyatakan bahwa "langkah ini merupakan solusi jangka pendek untuk menjaga stabilitas industri dalam negeri."
Pemerintah saat ini tengah menyelesaikan proses administrasi terkait pengadaan pasokan tersebut.
Kementerian Perdagangan juga melakukan tindak lanjut guna merealisasikan impor nafta dari ketiga wilayah tersebut.
Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Harga Plastik
Harga plastik di dalam negeri dilaporkan mengalami kenaikan signifikan antara 30 hingga 80 persen.
Kenaikan tersebut dipicu oleh konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Gangguan distribusi nafta serta kenaikan harga minyak global menjadi faktor utama lonjakan harga tersebut.
Data dari Independent Commodity Intelligence Services menunjukkan ekspor nafta dari Timur Tengah mencapai jutaan ton per tahun.
Arab Saudi mengekspor sekitar 3,6 juta ton nafta per tahun.
Oman mengekspor sekitar 2,7 juta ton nafta per tahun.
Hampir 4 juta ton nafta setiap bulan dikirim melalui Selat Hormuz menuju Asia.
Strategi Jangka Panjang Kurangi Ketergantungan Nafta
Selain solusi jangka pendek, pemerintah juga menyiapkan strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada nafta.
Strategi tersebut meliputi diversifikasi bahan baku plastik menggunakan biomaterial seperti rumput laut dan singkong.
Rumput laut telah diteliti sebagai alternatif bahan baku plastik terutama untuk kantong plastik.
Kendala utama penggunaan rumput laut adalah biaya produksi yang masih tinggi akibat pasar yang terbatas.
Pemerintah berencana menggandeng usaha kecil dan menengah yang telah memproduksi plastik berbasis rumput laut.
Kolaborasi dengan UKM diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi dan menekan biaya melalui skala industri yang lebih besar.
Jika substitusi bahan baku dari nafta ke rumput laut berhasil diterapkan maka biaya operasional dan produksi berpotensi menurun.
Saat ini pemerintah sedang melakukan pembahasan dan penjajakan dengan sejumlah UKM terkait implementasi tersebut.
- Penulis :
- Arian Mesa








