
Pantau - IHSG atau Indeks Harga Saham Gabungan pada penutupan perdagangan Senin sore menguat sebesar 41,69 poin atau 0,56 persen ke level 7.500,19.
Indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan justru turun tipis 0,11 poin atau 0,01 persen ke posisi 746,36.
Penguatan IHSG didorong terutama oleh kenaikan saham sektor energi serta didukung sektor barang baku dan industri.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menyampaikan, "Jika IHSG mampu bertahan di atas 7.500, maka berpotensi menguji level 7.600," ungkapnya.
Pada awal perdagangan, IHSG sempat dibuka melemah akibat kenaikan harga minyak mentah dunia.
Kenaikan harga minyak dipicu oleh kegagalan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang tidak mencapai kesepakatan.
Presiden Donald Trump juga mengumumkan rencana blokade Selat Hormuz oleh angkatan laut AS.
Kondisi tersebut meredam harapan penyelesaian konflik di kawasan Timur Tengah secara cepat dan meningkatkan risiko ketegangan geopolitik global.
Dampak lanjutan dari situasi tersebut berpotensi memicu guncangan energi di tingkat global.
Namun pada akhir sesi I dan sepanjang sesi II, IHSG berbalik menguat dan masuk ke zona hijau.
Sentimen Global dan Domestik Dorong Pergerakan IHSG
Penguatan IHSG ditopang oleh sektor energi, barang baku, dan industri meskipun sektor keuangan mengalami tekanan.
Dari sisi domestik, penjualan ritel Indonesia tumbuh 6,5 persen secara tahunan pada Februari 2026, meningkat dari 5,7 persen pada Januari 2026.
Pertumbuhan tersebut menjadi yang tercepat sejak Maret 2024 dan didorong oleh peningkatan konsumsi masyarakat selama Ramadan dan menjelang Idul Fitri.
Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan ke Rusia untuk bertemu dengan Vladimir Putin.
Pertemuan tersebut membahas kelanjutan kerja sama bilateral termasuk penguatan pasokan minyak ke Indonesia.
Namun rencana impor minyak dari Rusia berpotensi menghadapi kendala jika jalur distribusi tetap melalui Selat Hormuz.
Selain itu terdapat risiko tambahan berupa sanksi dari Uni Eropa terhadap perdagangan minyak Rusia.
Performa Sektoral dan Aktivitas Perdagangan
Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, sembilan sektor mengalami penguatan dengan sektor energi memimpin kenaikan sebesar 2,55 persen.
Sektor barang baku naik 2,44 persen dan sektor industri naik 2,08 persen.
Dua sektor yang mengalami pelemahan yaitu sektor keuangan turun 0,91 persen dan sektor kesehatan turun 0,17 persen.
Saham dengan kenaikan terbesar antara lain BAPA, CITY, DFAM, PSDN, dan ATAP.
Saham yang mengalami penurunan terbesar yaitu APIC, OPMS, DIVA, LUCY, dan SHID.
Frekuensi perdagangan tercatat 2.561.063 transaksi dengan total volume 42,51 miliar lembar saham.
Nilai transaksi mencapai Rp20,45 triliun.
Sebanyak 397 saham menguat, 264 saham melemah, dan 156 saham stagnan.
Pergerakan bursa Asia menunjukkan hasil beragam dengan indeks Nikkei melemah, Shanghai menguat tipis, Hang Seng melemah, dan Strait Times juga terkoreksi.
- Penulis :
- Shila Glorya








