
Pantau - PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mendorong penerapan konsep kerja sama operasi dan/atau teknologi (KSOT) guna mengoptimalkan pengelolaan struktur dan area migas dengan standar health, safety, security, and environment (HSSE) yang ketat sebagai bagian dari strategi peningkatan produksi migas nasional.
Direktur Utama PHE Awang Lazuardi menyatakan langkah ini bertujuan menjaga ketahanan energi nasional sekaligus memperkuat komitmen perusahaan terhadap aspek keselamatan kerja.
"Hal ini juga menegaskan komitmen kuat perusahaan terhadap penerapan aspek HSSE dalam setiap pelaksanaan kerja sama," ungkapnya.
Strategi Optimalisasi dan Kolaborasi Migas
KSOT dirancang untuk mengoptimalkan potensi struktur idle dan undeveloped discovery melalui kolaborasi dengan mitra dan penyedia teknologi.
Kebijakan ini sejalan dengan regulasi Kementerian ESDM melalui Permen ESDM Nomor 14 Tahun 2025 serta SKK Migas melalui PTK Nomor 23 Tahun 2025.
Sebagai implementasi awal, PHE telah membuka kerja sama pengelolaan sumur idle dan melakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Idle Wells Batch 1 serta Confidentiality Agreement untuk Batch 1 dan Batch 2 dengan calon mitra.
"KSOT merupakan bagian dari strategi kita untuk mendukung kemandirian energi dan meningkatkan produksi migas nasional. Kami mengundang para mitra dan penyedia teknologi untuk berpartisipasi aktif dalam peluang kerja sama ini," ujarnya.
PHE juga akan menawarkan 31 struktur migas yang tersebar di Regional 1 hingga Regional 4 dalam dua batch kerja sama.
HSSE Jadi Prioritas Utama Industri Hulu Migas
Dalam pelaksanaan KSOT, PHE menekankan prinsip good corporate governance dengan menjadikan aspek HSSE sebagai prioritas utama.
"Tidak ada kepentingan bisnis perusahaan yang begitu penting, sehingga kita harus mengorbankan aspek HSSE," tegas Awang.
Direktur Strategi Portofolio dan Pengembangan Usaha Pertamina Emma Sri Martini menegaskan pentingnya setiap produksi migas dalam memperkuat ketahanan energi nasional.
"Setiap barel itu sangat berarti buat Pertamina, every single barrel is very meaningful untuk memperkuat ketahanan energi nasional, apalagi jika melihat situasi geopolitik saat ini," jelasnya.
Komisaris Utama Pertamina Mochammad Iriawan menyebut tantangan utama bukan pada ketersediaan sumber daya, melainkan konversi potensi menjadi produksi nyata.
"Tantangan kita bukan pada ketersediaan sumber daya, melainkan bagaimana mengonversi potensi tersebut menjadi produksi nyata untuk mendukung ketahanan energi nasional. Namun, produksi ini harus berjalan seiring dan senantiasa mengutamakan keselamatan, keamanan, dan tanggung jawab terhadap lingkungan," ujarnya.
Dirjen Migas Laode Sulaeman menegaskan HSSE harus menjadi fondasi utama dalam peningkatan produksi migas.
Komisaris PHE Nanang Untung mengingatkan bahwa risiko keselamatan di industri hulu migas tetap tinggi meskipun skala operasi lebih kecil.
"Walaupun skalanya lebih kecil, faktor risiko safety tetap sangat tinggi dan harus menjadi perhatian serius. Produksi yang dihasilkan harus berjalan seiring dengan kemampuan kita dalam mengelola risiko yang muncul," katanya.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menegaskan keselamatan merupakan prioritas utama dalam seluruh kegiatan hulu migas.
Sosialisasi KSOT terus dilakukan agar calon mitra memahami konsep kerja sama serta penerapan HSSE secara menyeluruh.
"Kolaborasi yang terjalin diharapkan mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan produksi migas nasional sekaligus menjaga keselamatan pekerja dan lingkungan," tutupnya.
- Penulis :
- Arian Mesa







