Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Trump Ultimatum Presiden Sementara Venezuela dan Isyaratkan Gelombang Baru Intervensi Militer

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Trump Ultimatum Presiden Sementara Venezuela dan Isyaratkan Gelombang Baru Intervensi Militer
Foto: (Sumber: Arsip foto - Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez. /ANTARA/Anadolu/py..)

Pantau - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan peringatan keras kepada Presiden Sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, pada Minggu (4/1), menyatakan akan ada konsekuensi besar jika Rodriguez tidak mengikuti kebijakan yang dianggap benar oleh Washington.

Pernyataan itu disampaikan Trump dalam wawancara melalui telepon dengan majalah The Atlantic, sehari setelah ia mengumumkan operasi militer di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores.

Trump mengatakan, "Jika (Ibu Delcy Rodriguez) tidak melakukan hal yang benar, dia akan membayar harga yang sangat mahal, mungkin lebih besar daripada Maduro."

Trump juga menyatakan bahwa AS akan menegaskan kendalinya atas Venezuela untuk sementara waktu, termasuk kemungkinan pengerahan pasukan tambahan di wilayah tersebut.

Ketegangan Politik Meningkat Usai Penangkapan Maduro

Setelah Maduro ditangkap, Mahkamah Agung Venezuela menunjuk Delcy Rodriguez sebagai presiden sementara.

Namun, Trump mengkritik sikap Rodriguez yang menolak intervensi bersenjata dari AS dan menyebutnya sebagai alasan utama dikeluarkannya peringatan tersebut.

Padahal, sehari sebelumnya dalam konferensi pers pasca-operasi, Trump sempat memuji Rodriguez.

"Pada dasarnya dia bersedia melakukan apa yang kami anggap perlu untuk membuat Venezuela kembali hebat," ujar Trump saat itu.

Pernyataan itu segera dibantah oleh Delcy Rodriguez.

Ia menegaskan bahwa Venezuela akan mempertahankan sumber daya alamnya dan bahwa militer tetap setia pada garis kebijakan Maduro.

"Kami tidak akan pernah lagi menjadi daerah koloni," tegas Rodriguez.

Pemerintah Venezuela di Caracas juga telah menyerukan pembebasan Maduro, yang kini ditahan di sebuah fasilitas di Negara Bagian New York atas dakwaan terkait perdagangan narkotika.

Trump menuduh Maduro terlibat dalam pengiriman narkoba ke AS serta mempertahankan kekuasaan secara tidak sah melalui kecurangan pemilu.

Doktrin Donroe dan Ambisi Global Trump

Trump juga mengindikasikan bahwa operasi militer di Venezuela bisa berlanjut jika dianggap perlu.

"Pembangunan kembali di sana dan perubahan rezim, apa pun istilahnya, itu lebih baik daripada kondisi yang ada sekarang. Tidak mungkin lebih buruk lagi," ujarnya.

Pernyataan ini bertolak belakang dengan pidato Trump pada Desember 2016, saat ia masih menjadi presiden terpilih, di mana ia menyatakan AS tidak akan lagi menggulingkan rezim asing yang tidak dipahami.

Saat ditanya mengapa intervensi di Venezuela berbeda dari operasi militer di Irak dan Afghanistan yang dulu ia kritik, Trump merujuk kepada mantan Presiden George W. Bush.

"Saya tidak melakukan (intervensi di) Irak. Itu Bush. Anda harus bertanya kepada Bush, karena kita seharusnya tidak pernah masuk ke Irak. Itulah awal bencana Timur Tengah," ucapnya.

Trump juga menyebut AS harus menegaskan kendalinya atas Belahan Barat, merujuk pada versi modern dari Doktrin Monroe, yang ia sebut sebagai "Doktrin Donroe".

Namun, ia menegaskan bahwa keputusan untuk menargetkan Venezuela tidak hanya karena letaknya di Belahan Barat, tetapi karena situasi internal negara tersebut.

"Ini bukan soal belahan bumi. Ini soal negaranya, masing-masing negara," ujar Trump.

Dalam wawancara yang sama, Trump juga menyatakan bahwa Venezuela mungkin bukan negara terakhir yang akan menjadi sasaran intervensi AS.

Secara mengejutkan, ia menyatakan, "Kami memang membutuhkan Greenland, itu mutlak," dengan alasan kawasan tersebut dikepung oleh kapal Rusia dan China.

Upaya Trump untuk mengakuisisi Greenland sebelumnya telah mendapat penolakan luas dari pemimpin dan warga setempat, sebagaimana tercermin dalam berbagai jajak pendapat.

Penulis :
Ahmad Yusuf
Editor :
Tria Dianti