
Pantau - Amerika Serikat melancarkan serangan udara terkoordinasi ke berbagai wilayah di Suriah pada Sabtu (10/1) malam waktu setempat atau Minggu (11/1) dini hari WIB, sebagai respons terhadap serangan mematikan ISIS di Palmyra bulan lalu.
Serangan Balasan melalui Operasi Hawkeye Strike
Serangan ini dilakukan melalui Operation Hawkeye Strike, operasi militer besar yang diluncurkan oleh Komando Pusat AS (CENTCOM) sejak 19 Desember 2025.
CENTCOM menyatakan bahwa aksi ini merupakan bentuk balasan atas serangan ISIS pada 13 Desember 2025 di Palmyra, Suriah, yang menewaskan dua tentara Amerika dan satu juru bahasa sipil asal AS.
"Serangan ini adalah bagian dari komitmen jangka panjang kami untuk memerangi terorisme Islam radikal," ungkap CENTCOM dalam pernyataan resminya.
CENTCOM menegaskan bahwa tujuan utama dari serangan ini adalah untuk melindungi pasukan AS dan mitra lokal, mencegah serangan lanjutan, serta mengejar pelaku teror di kawasan tersebut.
Serangan udara dimulai tepat pukul 12.30 waktu setempat atau sekitar pukul 00.30 WIB dan menyasar sejumlah posisi strategis yang diyakini sebagai basis dan tempat persembunyian ISIS di seluruh wilayah Suriah.
Dukungan Mitra Lokal dan Dampak di Lapangan
Operasi ini turut melibatkan pasukan mitra lokal di Suriah yang membantu dalam identifikasi target dan koordinasi serangan di lapangan.
Sebuah foto yang dirilis sehari sebelum pengumuman operasi menunjukkan pasukan keamanan Suriah bersiaga di Aleppo, wilayah utara Suriah, memperlihatkan kesiapan penuh menjelang eskalasi konflik.
Hingga saat ini, belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban atau dampak langsung dari serangan tersebut, namun pengamat memperkirakan operasi ini akan berlanjut selama beberapa hari ke depan.
Status hukum dan rincian lebih lanjut mengenai pelaku ISIS yang diburu masih dalam investigasi dan pengawasan militer AS.
- Penulis :
- Gerry Eka








