Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

China Kecam Ancaman AS terhadap Kuba, Tegaskan Dukungan terhadap Kedaulatan Havana

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

China Kecam Ancaman AS terhadap Kuba, Tegaskan Dukungan terhadap Kedaulatan Havana
Foto: Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing pada Senin 12/1/2026 (sumber: ANTARA/Desca Lidya Natalia)

Pantau - Pemerintah China menegaskan dukungannya terhadap Kuba sebagai negara berdaulat di tengah meningkatnya tekanan dari Amerika Serikat, menyusul pernyataan Presiden Donald Trump yang menyebut Kuba sebagai target potensial kebijakan luar negerinya.

China Bela Kuba dari Ancaman Amerika Serikat

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menyatakan bahwa negaranya dengan tegas berdiri bersama Kuba dalam menjaga kedaulatan dan keamanan nasional.

"China dengan tegas mendukung Kuba dalam menjaga kedaulatan dan keamanan nasional serta menentang campur tangan eksternal," ungkapnya dalam konferensi pers di Beijing, Senin, 12 Januari 2026.

Ia juga mendesak Washington untuk menghentikan segala bentuk tekanan terhadap Kuba.

"Amerika Serikat harus segera menghentikan blokade, sanksi, dan pemaksaan dalam segala bentuk terhadap Kuba, serta bertindak demi perdamaian dan stabilitas regional," tambah Mao Ning.

Pernyataan ini disampaikan setelah Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa Kuba adalah salah satu negara yang “siap untuk tumbang” dalam kebijakan pemerintahannya ke depan.

Tanggapan Keras dari Pemimpin dan Pejabat Kuba

Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel langsung merespons pernyataan Trump dengan menegaskan bahwa negaranya tetap bebas, merdeka, dan berdaulat.

"Kuba adalah negara yang bebas, merdeka, dan berdaulat," tegas Diaz-Canel.

Ia juga membantah tuduhan bahwa Kuba memberikan layanan keamanan kepada Venezuela sebagai imbalan minyak, dan mengkritik sikap Amerika Serikat.

"AS tidak memiliki otoritas moral untuk menuduh Kuba dalam hal apa pun," ujarnya melalui media sosial, seraya menuding bahwa AS telah mengubah segala hal, termasuk nyawa manusia, menjadi bisnis.

Diaz-Canel menambahkan bahwa negaranya akan terus mempertahankan pilihan politiknya dan menolak campur tangan asing.

"AS berlebihan dalam menanggapi keputusan berdaulat rakyat Kuba untuk memilih model politik mereka sendiri," ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa Kuba tidak pernah mengancam negara lain dan siap mempertahankan diri “hingga tetes darah terakhir”.

Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodriguez, turut mengecam kebijakan Amerika Serikat yang dianggap telah menindas negaranya selama puluhan tahun.

"AS telah menggunakan kekuatan dan agresi terhadap Kuba selama 67 tahun serta berupaya memaksakan kehendaknya atas hak-hak negara berdaulat," ujarnya.

Menurut Rodriguez, kekuatan AS didasarkan pada kekuatan militer dan ekonomi yang besar, namun Kuba memiliki keunggulan moral.

"Di sisi Kuba terdapat akal sehat, hukum internasional, dan semangat patriotik seluruh rakyat," katanya, menambahkan bahwa rakyat Kuba tidak akan menyerahkan kedaulatannya.

China kembali menekankan pentingnya menghentikan segala bentuk tekanan terhadap Kuba demi menciptakan stabilitas kawasan, sebagaimana ditegaskan pula dalam laporan People's Daily.

Penulis :
Shila Glorya