Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Jens Stoltenberg Serukan Dialog Setara dengan Rusia, Tegaskan Pentingnya Kendali Senjata Nuklir

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Jens Stoltenberg Serukan Dialog Setara dengan Rusia, Tegaskan Pentingnya Kendali Senjata Nuklir
Foto: Markas NATO di Brussel, Belgia (sumber: Xinhua/Zhao Dingzhe)

Pantau - Mantan Sekretaris Jenderal NATO sekaligus Menteri Keuangan Norwegia saat ini, Jens Stoltenberg, menyerukan negara-negara Barat untuk membuka dialog dengan Rusia secara setara dan bersahabat guna membahas penyelesaian konflik Ukraina serta pengendalian senjata nuklir.

Stoltenberg menegaskan bahwa langkah pertama yang perlu dilakukan adalah membuka pembicaraan dengan Rusia untuk mengakhiri perang di Ukraina.

"Pertama, kita perlu berbicara dengan Rusia tentang mengakhiri perang di Ukraina, seperti yang kami—Amerika Serikat dan negara-negara lain—lakukan," ungkapnya.

Ia juga menyoroti pentingnya merancang kembali sistem pengendalian senjata yang selama ini telah runtuh, meskipun di masa Perang Dingin sekalipun pengendalian senjata masih dapat diterapkan.

"Kedua, kita perlu berbicara pada suatu saat tentang arsitektur pengendalian senjata yang baru," ujarnya.

Arsitektur Senjata Nuklir Rusak, Ukraina Bukan Anggota NATO

Stoltenberg menekankan bahwa bahkan pada masa paling genting seperti Perang Dingin, negara-negara besar tetap berhasil mencapai kesepakatan pengurangan senjata nuklir, sesuatu yang kini sudah tidak berlaku lagi.

"Bahkan selama Perang Dingin, kita berhasil membatasi senjata nuklir, tetapi arsitektur itu telah lenyap," tambahnya.

Ia juga menegaskan perlunya membangun hubungan jangka panjang dengan Rusia, mengingat posisi geografis sebagai tetangga.

"Dan ketiga, kita perlu berbicara dengan Rusia sebagai tetangga," tegasnya.

Stoltenberg mengakui bahwa negara-negara anggota NATO tetap memerlukan sistem pencegahan dan pertahanan yang kuat, namun menyatakan secara jelas bahwa Ukraina bukan bagian dari NATO.

Pada Oktober lalu, ia sempat menyatakan bahwa kemungkinan terjadinya perang langsung antara Rusia dan NATO sangat kecil, meski terdapat pernyataan dari perwira militer Inggris yang memperingatkan sebaliknya.

Putin Sebut Ketakutan NATO "Omong Kosong"

Presiden Rusia Vladimir Putin pada awal Oktober lalu menepis ketakutan akan kemungkinan serangan Rusia terhadap NATO.

Putin menyebut ketakutan tersebut sebagai "omong kosong" yang disebarkan oleh negara-negara Eropa, merespons kekhawatiran yang berkembang di kawasan.

Saat menerima surat kepercayaan dari 34 duta besar asing di Kremlin pada hari Kamis, Putin menyatakan bahwa kemajuan NATO ke perbatasan Rusia dan pengabaian terhadap kepentingan sah Rusia telah memicu krisis Ukraina.

Ia juga menyampaikan bahwa penyelesaian damai konflik di Ukraina harus segera diwujudkan, seraya menekankan bahwa Rusia akan terus mengejar tujuannya sampai ada kesiapan dari pihak Kiev untuk berdialog.

"Rusia akan terus secara konsisten mengejar tujuannya sampai Kiev menyatakan kesiapannya untuk penyelesaian tersebut," ujarnya.

Penulis :
Leon Weldrick