
Pantau - Ketua Komite Nasional Palestina untuk Administrasi Jalur Gaza, Ali Shaath, secara resmi mengumumkan susunan anggota pengelola Gaza pada Sabtu, 17 Januari 2026, dalam sebuah pernyataan dari Kairo.
Komite ini akan memulai tugasnya dari Mesir sebelum berpindah ke Gaza untuk melaksanakan bantuan darurat dan tahap awal rekonstruksi pasca-konflik.
Susunan Komite dan Dukungan Internasional
Komite ini dikukuhkan sehari setelah Gedung Putih menyetujui Dewan Perdamaian dan menjadikan komite Gaza sebagai satu dari empat badan transisi.
Daftar anggota komite meliputi berbagai bidang penting:
Ali Shaath – Ketua Komite
Ayed Abu Ramadan – Ekonomi, Perdagangan, Industri
Abdel Karim Ashour – Pertanian
Ayed Yaghi – Kesehatan
Osama al-Saadawi – Perumahan dan Pertanahan
Adnan Abu Warda – Kehakiman
Mayor Jenderal Sami Nasman – Urusan Dalam Negeri dan Keamanan
Ali Barhoum – Urusan Munisipal dan Air
Bashir Al-Rayes – Keuangan
Hanaa Terzi – Urusan Sosial
Jabr al-Daour – Pendidikan
Omar al-Shamali – Telekomunikasi
"Kami mengumumkan dari Kairo sebuah komite yang dibentuk untuk melayani rakyat kami, dengan tujuan mengakhiri ketidakadilan historis yang dialami rakyat Gaza," tegas Shaath.
Komite didukung penuh oleh Mesir, Presiden Abdel Fattah al-Sisi, serta negara-negara mediator seperti Qatar, Turki, negara Arab lain, dan Uni Eropa.
Tahapan Rekonstruksi Gaza dan Rencana Aksi
Komite akan mengadopsi rencana rekonstruksi usulan Mesir yang telah didukung Liga Arab dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) sejak Maret lalu.
Lima tahap utama rencana rekonstruksi:
Pembangunan hunian darurat menggunakan unit prefabrikasi
Pembukaan kembali perbatasan Rafah sebagai prioritas
Pemulihan layanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan
Evakuasi 20.000 korban luka untuk pengobatan ke luar negeri
Pembersihan puing dan program daur ulang untuk menciptakan lapangan kerja
Shaath menekankan bahwa komite akan mengelola urusan sipil Gaza secara nonpolitik, mengacu pada rencana 20 poin Presiden AS Donald Trump dan Resolusi 2803 Dewan Keamanan PBB (17 November).
Kelompok perlawanan Hamas menyatakan mendukung pembentukan komite ini dan akan memfasilitasi proses serah terima administrasi sipil.
Situasi Kemanusiaan di Gaza dan Fokus Pemulihan
Perang yang berlangsung sejak Oktober 2023 telah menyebabkan lebih dari 71.000 korban jiwa, mayoritas perempuan dan anak-anak, serta melukai lebih dari 171.000 warga Palestina.
Meski gencatan senjata diberlakukan pada 10 Oktober, pelanggaran tetap terjadi. Hingga kini, tercatat 464 warga Palestina tewas dan hampir 1.280 lainnya terluka akibat serangan lanjutan.
Komite juga menyoroti pentingnya pemulihan pendidikan bagi anak-anak Gaza yang telah kehilangan akses pendidikan selama hampir dua setengah tahun.
"Fokus utama kami adalah mengurangi penderitaan, memperbaiki kondisi hidup warga, dan memastikan rekonstruksi berjalan efektif," ujar Shaath.
- Penulis :
- Gerry Eka
- Editor :
- Tria Dianti







