
Pantau - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa India akan membeli minyak dari Venezuela, bukan lagi dari Iran, sebagai bagian dari kesepakatan strategis yang telah disusun bersama.
"Kami sudah membuat kesepakatan. India akan masuk dan mereka akan membeli minyak Venezuela, bukan membelinya dari Iran. Jadi, kami sudah membuat kesepakatan itu, konsep kesepakatannya, tetapi China dipersilakan untuk ikut dan membeli minyak," ungkap Trump dalam pernyataannya pada Sabtu, 31 Januari 2026.
Kesepakatan Minyak dan Situasi Politik Venezuela
Pernyataan tersebut disampaikan sehari setelah India dan Venezuela mengumumkan perluasan kemitraan bilateral, menyusul pembicaraan antara Perdana Menteri India Narendra Modi dan presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez.
Sebelumnya, pada 3 Januari, Amerika Serikat melakukan operasi militer di Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya atas tuduhan kasus narkoba dan senjata.
Keduanya kemudian dibawa ke New York dan menyatakan tidak bersalah dalam proses hukum yang tengah berjalan.
Trump menegaskan bahwa pemerintah AS kini akan “mengelola” Venezuela dan aset-aset minyaknya selama masa transisi politik di negara tersebut.
Langkah ini memperkuat posisi AS dalam pengendalian rantai pasok energi dan menekan negara-negara yang selama ini membeli minyak dari Iran atau sekutunya.
Sikap AS terhadap India, Kuba, dan Iran
Trump juga menyinggung kebijakan tarif tinggi terhadap India sebelumnya, menyebutkan bahwa AS telah memberlakukan tarif 50 persen atas barang-barang asal India sebagai respons terhadap keputusan India membeli minyak dari Rusia.
Menanggapi pernyataan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum terkait krisis kemanusiaan di Kuba akibat sanksi AS, Trump menyatakan, "Tidak harus terjadi krisis kemanusiaan."
Ia menambahkan, "Saya pikir mereka kemungkinan akan datang kepada kami. Kuba akan bebas kembali. Mereka akan datang kepada kami. Mereka akan membuat kesepakatan."
Terkait Iran, Trump menyebutkan bahwa Teheran sedang melakukan pembicaraan secara serius dengan Amerika Serikat.
"Tentu saja, saya tidak bisa memberi tahu Anda soal itu, tetapi kami memiliki kapal-kapal yang sangat besar dan kuat yang bergerak ke arah tersebut. Saya berharap mereka menegosiasikan sesuatu yang dapat diterima," katanya.
Ia juga mengakui bahwa beberapa pihak meyakini tekanan militer atau ancaman nuklir diperlukan untuk mencapai kesepakatan.
"Tetapi saya tidak tahu apakah mereka akan melakukannya. Namun mereka sedang berbicara dengan kami, berbicara secara serius dengan kami," tutup Trump.
- Penulis :
- Gerry Eka







