
Pantau - Gelombang kedua warga Palestina mulai kembali ke Jalur Gaza melalui titik penyeberangan Rafah pada Selasa (3/2), setelah penyeberangan tersebut dibuka sebagian oleh otoritas setempat sehari sebelumnya.
Proses Pemulangan dan Kondisi Kesehatan Warga
Menurut laporan Al Qahera News, warga yang kembali ke Gaza sebelumnya menjalani perawatan medis di rumah sakit-rumah sakit Mesir.
Mereka diwajibkan menyelesaikan prosedur administrasi di titik penyeberangan Rafah sebelum diizinkan masuk kembali ke wilayah Gaza.
Media Israel menyebutkan bahwa sekitar 50 warga Palestina diperkirakan akan kembali ke Gaza dalam gelombang pemulangan ini.
Di sisi lain, sekitar 150 warga Palestina bersama pendamping mereka dijadwalkan keluar dari Gaza menuju Mesir untuk menjalani pengobatan medis.
Otoritas kesehatan Gaza mengungkapkan bahwa hampir 22.000 pasien masih menunggu pembukaan penuh titik penyeberangan Rafah guna mendapatkan akses perawatan yang dibutuhkan.
Rafah Masih Dikendalikan Israel, Serangan ke Gaza Terus Berlanjut
Titik penyeberangan Rafah merupakan jalur utama masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza, dan menjadi vital di tengah krisis berkepanjangan akibat agresi militer Israel.
Sejak Mei 2024, titik ini berada di bawah kendali penuh militer Israel, sembilan bulan setelah dimulainya operasi militer besar-besaran ke Gaza pada Oktober 2023.
Agresi tersebut telah menyebabkan lebih dari 71.000 warga tewas dan 171.000 lainnya terluka.
Sesuai kesepakatan gencatan senjata tahap pertama, Rafah seharusnya dibuka kembali pada Oktober 2025.
Namun, Israel menolak membuka Rafah hingga menerima jasad terakhir sandera Israel dari Gaza, yang baru diserahterimakan pada pekan lalu.
Meskipun gencatan senjata masih berlangsung, militer Israel tetap melancarkan serangan ke berbagai wilayah Gaza.
Menurut kantor media Gaza, setidaknya 524 warga tewas dan 1.360 lainnya terluka akibat serangan sejak 10 Oktober 2025.
- Penulis :
- Shila Glorya







